Friday, January 21, 2011

Fanfic: Come Home part 2

Author: Ai Yagami Arimura Mori
Genre: yaoi,romance, a little male pregnancy
Pair: Kiyoharu X Ryutaro Arimura
Cast: Plastic Tree and Kiyoharu
BGM:  mikazuki kiseki - ayabie 

Part 2: Love and Mad

Ryutaro menunggu sampai Koichi selesai minum susunya baru kemudian ia mengangkat tubuh Koichi dan menggendongnya dengan posisi tegak supaya Koichi tidak tersedak. Meskipun Koichi sudah tidak bayi lagi, tapi Ryutaro selalu melakukan hal ini untuk berjaga-jaga. Saat membelai perlahan rambut Koichi, Ryutaro melihat seseorang di kejauhan yang sedang menatapnya. Untuk beberapa saat, Ryutaro tidak mengalihkan pandangannya dari orang itu. Ia merasa pernah mengenal orang yang juga sedang menatapnya itu. Orang itu mirip dengan seseorang yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Ryutaro memakai tasnya dan cepat-cepat bangun dari tempat duduknya. Mungkin ini hanya karena ia sedang berada di Chiba dan memikirkan orang itu jadi ia berpikir yang tidak-tidak. Saat melangkah pergi, Ryutaro sempat menoleh ke belakang. Orang itu sepertinya tidak mengikutinya.
***
Urusan technical meeting kali ini sudah selesai. Kiyoharu menyempatkan diri keluar sebentar untuk melihat-lihat keadaan diluar. Saat itulah ia melihat Ryutaro baru saja keluar dari sebuah minimarket. Kiyoharu langsung menghampirinya. “Ryu-chan, kenapa kau malah jalan-jalan kesini? Bukankah kau harusnya menunggu di hotel saja?” tanya Kiyoharu.
“Ah, Kiyoharu-san, rupanya kau juga disini ya?” ujar Ryutaro.
“Kenapa kau tidak tinggal di hotel saja sih?”
“Aku cuma ingin jalan-jalan saja kok,” jawab Ryutaro. “Urusanmu sudah selesai?”
“Belum, aku sedang istirahat sebentar,” Kiyoharu menggendong Koichi yang mengulurkan tangannya ke arah Kiyoharu. “Bagaimana jalan-jalanmu, Ichi-chan?”
Koichi hanya menarik-narik rambut Kiyoharu. Ryutaro tertawa melihatnya. Koichi memang senang sekali memainkan rambut Kiyoharu.
“Dia sudah minum susu?” tanya Kiyoharu sambil mengajak Ryutaro ke dalam hall tempat ia akan manggung.
“Sudah kok, tenang saja,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu membawa Koichi ke tempat staffnya berkumpul. Wataru kembali menghampiri Koichi, “Hai, Koichi-kun, kau tidak takut lagi kan padaku?” tanya Wataru.
Koichi hanya menatap Wataru sambil diam. “Ayo, kau sapa Wataru-ojiisan,” canda Kiyoharu sambil memegang tangan mungil Koichi dan melambaikannya ke arah Wataru yang berada di hadapannya. Tapi Koichi justru kembali menatap Kiyoharu dan berkata pelan, “Papa..,”
“Ya ampun, Kiyoharu-san, anakmu lucu sekali,” ujar Wataru sambil tertawa kecil.
“Dia tidak rewel ya saat dibawa ke tempat seperti ini?” tanya salah satu staff Kiyoharu pada Ryutaro.
“Tidak, dia sudah biasa kami bawa kemana-mana. Waktu bayi dia juga ikut ke studio rekaman,” jawab Ryutaro.
“Wah, hebat juga,”
Kiyoharu lalu melihat ke arah Ryutaro sebentar, “Ryu-chan, kau tidak apa-apa? Mukamu agak pucat,”
“Aku cuma pusing dan mual,” jawab Ryutaro. “Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar,” Ryutaro sempat menutup mulutnya lalu menuju ke toilet.
“Apa Arimura-san baik-baik saja?” tanya Wataru.
“Ya, dia hanya perlu istirahat sebentar kok,” jawab Kiyoharu.
“Memangnya dia sakit apa?” tanya Wataru lagi sambil memegang tangan Koichi yang mulai terbiasa dengannya.
Kiyoharu tersenyum, “Dia sedang menyiapkan adik baru untuk Koichi-chan,”
“Eh? Maksudmu, Arimura-san sedang….,”
“Ya, dia sedang mengandung anak kedua kami,” jawab Kiyoharu.
“Heeeeee? Cepat sekali,” Wataru agak kaget.
Kiyoharu hanya tertawa.
***
Malam hari
Chiba Hotel
Hari ini semua urusan untuk performnya sudah selesai. Setelah makan malam dan sedikit pembahasan mengenai acara mereka besok, Kiyoharu kembali ke kamarnya. Di kamarnya, Ryutaro sedang berbaring sambil menemani Koichi yang sedang meminum susu sebelum tidur.
“Kau sudah kembali. Sudah selesai acaranya?” tanya Ryutaro begitu Kiyoharu datang.
“Untuk hari ini sudah kok, tinggal persiapan untuk besok saja,” jawab Kiyoharu. Ia lalu menuju ke kamar mandi.
Ryutaro masih menemani Koichi. Entah kenapa ia kembali teringat dengan peristiwa tadi saat ia dan Koichi berada di taman. Ia masih tidak yakin dengan orang yang ia lihat saat itu. Orang itu benar-benar mirip dengan seseorang yang ia kenal dulu. Jauh sebelum ia mengenal Kiyoharu. Ryutaro terdiam. Ryutaro menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal ini lagi. Sudah ada Koichi dan Kiyoharu, juga calon anak kedua mereka. Ia tidak mungkin meninggalkan semua ini begitu saja setelah apa yang ia alami dulu saat sedang hamil Koichi. Tanpa ia sadari, Koichi mulai tertidur di sampingnya dengan lelap. Mungkin karena lelah berjalan-jalan hari ini. Ryutaro baru menyadari anaknya itu sudah tidur ketika ia melihat ke arah Koichi sesaat. Ia lalu meletakkan botol susu Koichi di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya dan menarik selimut kecil milik Koichi.
Ryutaro mendesah pelan. Sebenarnya inilah hal yang paling tidak ingin ia ingat setiap kali datang ke Chiba, tapi entah kenapa kenangan itu selalu datang. Ryutaro mencoba berbaring sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya, berusaha menghilangkan dan melupakan kejadian yang tadi ia alami.
Sebuah pelukan dari Kiyoharu dan ciuman di lehernya mengagetkan Ryutaro. Kiyoharu dapat merasakan tubuh Ryutaro tersentak, namun ia hanya tersenyum. “Kau masih pusing?” tanya Kiyoharu.
“Sedikit,” jawab Ryutaro. Ia berbalik dan menatap Kiyoharu yang berada tepat di belakang tubuhnya dan berada sangat dekat dengannya.
“Kenapa?” tanya Kiyoharu heran.
Ryutaro tidak menjawabnya.
“Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Kiyoharu lagi.
“Tidak. Bukan itu,” jawab Ryutaro.
“Kau tidak enak badan?” Kiyoharu memegang kening Ryutaro dan memeriksa kondisi tubuhnya, tapi suhu tubuh Ryutaro masih normal. Ia lalu memegang pipi Ryutaro, “Ada apa? Katakan saja Ryu-chan,”
“Kiyoharu-san,” ujar Ryutaro pelan. “Sebenarnya tadi aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang yang pernah kukenal disini,”
“Lalu?”
“Aku hanya takut kalau ketahuan Ichi-chan adalah anakku dan dia mengatakannya pada media, semua bisa jadi lebih rumit,” jawab Ryutaro.
“Kalau begitu kau harus lebih berhati-hati lagi, Ryu-chan. Jangan sampai ada yang melakukan hal seperti itu. Kalau Ichi-chan ketahuan, dia akan kehilangan privasinya, kasihan dia,”
“Aku tahu,” jawab Ryutaro pelan.
Kiyoharu meraih kepala Ryutaro ke dalam pelukan hangatnya sementara Ryutaro juga memeluk tubuh Kiyoharu.
***
Pagi hari
Chiba Hotel
Ryutaro sudah membawa Koichi berjalan-jalan pagi ini, sementara Kiyoharu bersiap-siap menuju ke hall tempat acaranya diadakan setelah melakukan sarapan dengan Ryutaro dan Koichi tadi. Ryutaro membiarkan Koichi belajar berjalan di teras hotel yang luas. Semalam ia merasa sedikit lega dan sudah memantapkan hatinya. Ia mencintai Kiyoharu dan juga keluarga barunya ini. Sesekali Ryutaro berdiri dan membantu Koichi berjalan.
Sambil memakai sebuah tas ransel, Kiyoharu menghampiri Ryutaro dan Koichi, “Ryu-chan, kau mau ikut kesana sekarang atau nanti kau akan menyusul kesana?” tanya Kiyoharu.
“Mungkin aku akan menyusul kesana, Kiyoharu-san,” jawab Ryutaro. Koichi melihat ke arah Kiyoharu, “Papa…,” panggilnya.
Kiyoharu segera menggendong Koichi, “Ichi-chan, kau bersama mama Ryu dulu ya?” ujar Kiyoharu sambil mencium kening Koichi lalu menyerahkannya pada Ryutaro. Namun Koichi menangis saat Kiyoharu melepas pegangan tangannya. Ryutaro berusaha menenangkannya.
“Jangan menangis, Ichi-chan, nanti kita bertemu lagi kok,” ujar Kiyoharu.
Tapi tangisan Koichi mulai kencang.
“Ichi-chan, kenapa kau jadi manja begini? Biarkan papamu kerja dulu,” tambah Ryutaro sambil tetap menenangkan Koichi.
Koichi masih tetap menangis. Kiyoharu terpaksa kembali menggendong Koichi. “Sssst, Ichi-chan, sudah ya, jangan menangis lagi,” Kiyoharu menghapus airmata Koichi sambil tetap menggendongnya dan menenangkannya.
“Kenapa sekarang kau jadi manja begitu, Ichi-chan?” tanya Ryutaro.
Kiyoharu tertawa kecil. “Sudahlah, tidak apa-apa kok. Mungkin Ichi-chan mau ikut kesana,” Kiyoharu kembali menatap Koichi, “Kau mau ikut kesana ya,Ichi-chan?”
Koichi perlahan berhenti menangis dan akhirnya memeluk Kiyoharu.
“Baiklah, baiklah, sekarang aku akan menemanimu kesana bersama Koichi,” ujar Ryutaro kemudian. Tapi bunyi handphonenya mengagetkannya. Ryutaro segera menjawabnya. Sementara Kiyoharu mulai berhasil menenangkan Koichi yang sekarang benar-benar sudah berhenti menangis. Begitu Ryutaro menutup teleponnya, Kiyoharu segera bertanya, “Kau ada acara?”
“Bukan. Itu tadi Tadashi-kun. Mereka sudah sampai disini juga,” jawab Ryutaro.
“Mereka juga akan ke konserku?” tanya Kiyoharu.
“Ya, sepertinya begitu,” jawab Ryutaro sambil menyimpan kembali handphonenya.
“Kalau begitu, kau pergi bersama mereka saja. Ichi-chan biar bersamaku saja,”
“Tapi, apa kau tidak akan kerepotan?” tanya Ryutaro dengan sedikit khawatir.
“Tidak apa-apa kok,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
“Baiklah, nanti aku akan menyusul kesana,” ujar Ryutaro kemudian.
***
Menjelang Siang
Chiba Hall
Kiyoharu masih menggendong Koichi dan melakukan persiapan untuk penampilannya nanti.
“Wah, wah, si jagoan kecil Kiyoharu-san ikut juga rupanya,” kata Wataru sambil menghampiri Kiyoharu dan Koichi.
“Dia sedang tidak mau ditinggal. Tadi dia menangis di hotel saat aku mau kesini,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
Wataru tertawa, “Ternyata dia bisa manja pada papanya juga ya? Arimura-san tidak ikut?”
“Tidak, tapi nanti dia akan menyusul kesini,” jawab Kiyoharu.
“Kiyoharu-san, sudah waktunya check sound,” panggil salah satu staffnya.
“Oke,” Kiyoharu segera menuju ke stage. Setelah melakukan berbagai persiapan, Kiyoharu segera menyanyi sambil tetap menggendong Koichi. Terkadang Koichi ikut menyentuh mikrofonnya, untungnya Kiyoharu tidak membiarkannya memainkan mikrofon itu lama-lama.
“Sepertinya Koichi-kun akan menjadi vokalis juga,” ujar K-A-Z (gitaris sads) sambil tersenyum di sela-sela persiapan mereka, ketika Koichi kembali memegang mikrofon Kiyoharu dan sempat mendekatkan mikrofon itu ke mulutnya. Kiyoharu sempat tertawa menanggapinya. "Mungkin karena papa-mamanya sama-sama vokalis yah," ujar Kiyoharu kemudian. 
***
Chiba Station
Ryutaro baru saja sampai di Chiba Station dan menunggu Tadashi, Akira dan Kenken yang sebentar lagi sampai. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh mereka semua langsung menuju ke hall tempat Kiyoharu konser, namun akan lebih menyenangkan bila mereka bisa bersama-sama kesana. Sebuah kereta dari Tokyo baru saja tiba. Tak perlu menunggu lama bagi Ryutaro untuk bertemu dengan teman-teman bandnya itu.
Namun saat keluar dari Chiba Station, ada sebuah kejutan yang menunggunya. Seseorang tiba-tiba menghampirinya, “Ryu-chan, akhirnya kita bertemu lagi,” sapanya.
Ryutaro menoleh dan kali ini ia benar-benar kaget melihatnya. “Kouji-san,” sapa Ryutaro yang masih belum bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“Ternyata benar ya. Kau sudah sedikit berubah sekarang, Ryu-chan. Lama ya kita tidak berjumpa,” ujar laki-laki bernama Kouji itu.
“Ah, iya, sudah lama sekali,” jawab Ryutaro sambil menundukkan kepalanya.
Kenken menyenggol lengan Tadashi, “Leader-san, siapa dia?”
“Kouji-kun, gitaris teman lama Ryu-kun,” jawab Tadashi.
“Sekaligus mantan Ryu-chan,” tambah Akira.
“Heeeeeeeeee?” Kenken terlihat kaget.
“Ya, Ryu-kun pernah berhubungan dengannya dulu,” ujar Tadashi.
Kouji masih mengajak berbicara Ryutaro namun Ryutaro lebih banyak menjawabnya sambil menundukkan kepalanya.
“Kalian mau kemana setelah ini?” tanya Kouji.
“Kami akan menuju ke hall melihat pertunjukkan teman kami,” jawab Tadashi sambil menghampiri Ryutaro dan Kouji.
“Wah, kebetulan sekali, aku juga mau kesana. Jangan-jangan kalian akan melihat pertunjukkan Kiyoharu-san ya?” tebak Kouji.
“Darimana kau tahu?” Akhirnya Ryutaro menatap Kouji.
Kouji tertawa, “Tentu saja aku tahu, berita konser itu kan sudah terkenal disini. Jadi kalian benar-benar kenal dengan Kiyoharu-san? Dia hebat yah?”
“Ya,” jawab Ryutaro singkat. Ia lalu mengambil handphonenya dan mengirimkan email pada Kiyoharu. ‘Mungkin aku akan sedikit terlambat kesana. Jaga Ichi-chan baik-baik,’ tulis Ryutaro lalu menekan tombol sent pada handphonenya.
***
Chiba Hall
Persiapan sebelum tampil
Kiyoharu sudah memakai kostum yang akan ia kenakan nanti. Koichi sedang berada di sebuah tempat duduk khusus untuk balita yang sudah dibawa oleh Kiyoharu sebelumnya, sementara ia memakai make-upnya.
“Gomen, aku terlambat,” Ryutaro akhirnya sampai di ruang backstage.
“Tidak apa-apa. Tadi ada masalah ya?” tanya Kiyoharu sambil menatap Ryutaro dari kaca yang berada di hadapannya.
“Ya begitulah,” jawab Ryutaro. Ia langsung menghampiri Koichi. “Ichi-chan sudah minum susunya?”
“Belum,” jawab Kiyoharu, “Dari tadi dia sibuk memainkan mic, sepertinya dia akan meneruskan langkah kita menjadi seorang vokalis,”
Ryutaro tertawa mendengarnya. Ia lalu mengambilkan botol susu Koichi dari tas perlengkapan bayi yang ada di dekatnya. Koichi segera meminumnya.
“Tadashi-kun dan yang lain dimana?” tanya Kiyoharu.
“Sedang berada diluar,” jawab Ryutaro sambil menemani Koichi.
“Ini pesananmu, Kiyoharu-san,” salah satu staff datang sambil membawa semangkuk udon.
“Sankyuu,” Kiyoharu menyelesaikan makeupnya dan menyantap makanannya terlebih dulu.
“Kau baru makan sekarang?” tanya Ryutaro dengan heran.
“Tadi aku tidak sempat,” jawab Kiyoharu. Ia lalu menatap Ryutaro sebentar, “Kau mau coba?”
“Boleh,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu segera mendekati Ryutaro sambil membawa mangkuk udonnya lalu menyuapi Ryutaro.
“Kiyoharu-san ternyata romantis juga,” komentar Wataru.
“Lho, kau baru tahu ya?” Kiyoharu membalas komentar Wataru sambil tertawa. Sementara Ryutaro hanya tersenyum sambil memakan udonnya.
***
Chiba Hall
After show
Ryutaro dan Koichi langsung menyambut Kiyoharu di backstage, “Otsukaresama deshita, Kiyoharu-san,”
“Arigato, Ryu-chan,” balas Kiyoharu sambil tersenyum. “Setelah ini kami akan ke café untuk merayakan kesuksesan show kali ini, kau ikut kan?”
“Tentu saja,” jawab Ryutaro.
Setelah membereskan perlengkapannya, Kiyoharu dan Ryutaro keluar dari ruang backstage, melalui sebuah jalan rahasia, Ryutaro lebih dulu masuk ke mobil bersama Koichi, sementara Kiyoharu melewati pintu depan, menyapa para fans yang sedang menunggunya.
Sebenarnya Ryutaro agak sedikit tidak enak pada Kiyoharu karena Kouji tadi ingin ikut bersama mereka nanti. Tadinya ia ingin langsung beristirahat di hotel, tapi ia berharap mudah-mudahan Kouji membatalkan keinginannya.
***
One of Chiba Café
Kiyoharu dan para staffnya sudah menyewa salah satu café untuk merayakan kesuksesan mereka. Ryutaro tadinya terlihat cukup lega ketika ia melihat Tadashi, Akira dan Kenken sudah berada di mejanya dan tidak bersama Kouji. Namun kelegaannya tidak berlangsung lama karena ternyata Kouji baru saja kembali dari toilet dan melihat Kiyoharu datang bersama Ryutaro yang sedang menggendong Koichi.
“Wah, gawat,” ujar Kenken.
“Ryu-chan, jadi yang kemarin aku lihat itu benar-benar kau ya? Aku pikir aku salah lihat melihat kau sedang menggendong bayi di taman,” ujar Kouji.
Ryutaro tersentak kaget. Jadi benar, kemarin ia melihat Kouji.
“Kau sudah punya anak, Ryu-chan?” tanya Kouji.
“Eh… ummm…,” Ryutaro tampak gugup.
“Mirip juga denganmu. Anakmu dengan siapa?” Kouji kembali bertanya.
Baru saja Kiyoharu akan menjawabnya tapi Ryutaro segera menjawab, “Rahasia. Kau tidak perlu tahu,”
“Wah, ternyata sekarang kau sudah punya banyak rahasia ya? Tidak seperti dulu,” komentar Kouji.
“Kau teman lama Ryu-chan?” tanya Kiyoharu tiba-tiba.
“Yah bisa dibilang begitu. Kami cukup dekat dulu, bisa dibilang juga kami lebih dari teman, bukan begitu, Ryu-chan?” ujar Kouji.
Kiyoharu mengambil segelas bir yang ia pesan. “Jadi, kalian dulu saling menyukai?”
“Yah, bisa dibilang begitu,” jawab Kouji dengan jujur.
Kiyoharu menaruh gelas bir dengan agak kencang, membuat Ryutaro agak kaget. “Begitu ya?”
"Tapi kita kan sudah lama tidak bertemu lagi, Kouji-san,” Ryutaro berusaha menenangkan situasi tidak menyenangkan antara Kiyoharu dan Kouji.
“Ya, kau tidak tahu saja kalau aku mencari cara untuk menghubungimu dan itu susah sekali. Aku senang kita bisa bertemu lagi, Ryu-chan,” Kouji memegang tangan Ryutaro. Membuat Kiyoharu mulai diliputi perasaan tidak suka pada Kouji. Terlebih setelah itu, mereka berbincang cukup akrab. Sampai akhirnya, Kiyoharu menggendong Koichi dan kemudian meninggalkan Ryutaro tanpa berkata apapun. Ia hanya berpamitan pada member Plastic Tree yang lain dan juga staffnya.
***
Chiba Hotel
Kali ini giliran Kiyoharu yang menemani Koichi tidur. Entah kenapa ia merasa begitu kesal melihat Kouji dan Ryutaro begitu akrab. Ia harus mengakui kali ini kalau ia cemburu pada mereka. Tapi itu wajar saja mengingat Ryutaro sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari keluarganya. Ia tidak ingin ada yang mengganggu keluarganya yang baru ini. Suara pintu kamar dibuka dan seseorang masuk ke dalam tidak menarik perhatian Kiyoharu yang sedang mengelus rambut Koichi yang tertidur setelah tadi puas meminum susunya meskipun tidak habis. Ia tetap berada di samping Koichi.
“Kiyoharu-san, kenapa kau pergi begitu saja?” tanya Ryutaro begitu melihat Kiyoharu.
“Aku lelah,” jawab Kiyoharu singkat.
Ryutaro terlihat heran melihat tanggapan dingin Kiyoharu. Tapi ia memutuskan untuk menuju ke kamar mandi dulu untuk mandi dan berganti baju.
Sementara Kiyoharu meninggalkan Koichi yang sudah tertidur dan menuju ke ruang santai di kamar itu, menyalakan ipadnya sambil merokok.
Tak lama kemudian Ryutaro keluar dari kamar mandi dan menghampiri Kiyoharu, “Setelah ini acaramu sudah selesai kan? Kita bisa jalan-jalan kan?”
“Hmmm,” ujar Kiyoharu singkat.
“Lalu yang lain? Apa mereka akan pulang duluan?” tanya Ryutaro lagi.
“Sebagian. Wataru-san pulang bersama kita, tapi dia ada acara sendiri disini,” jawab Kiyoharu tanpa mengalihkan pandangannya dari ipadnya.
“Kiyoharu-san,” panggil Ryutaro.
“Hmm,”
“Kau marah?” tanya Ryutaro sambil menatap Kiyoharu.
“Menurutmu?” jawab Kiyoharu singkat.
“Tidak biasanya kau sedingin ini. Kenapa sih? Ada apa?” Ryutaro benar-benar heran.
Kiyoharu menghembuskan asap rokoknya.  Tapi ia tetap tidak menatap Ryutaro meskipun Ryutaro duduk di sampingnya.
“Nee, Kiyoharu-san, kenapa kau marah padaku?” tanya Ryutaro.
“Aku cuma kesal,” jawab Kiyoharu singkat.
“Kesal kenapa?”
Kiyoharu menghisap rokoknya lagi dan menghembuskan asapnya, “Kupikir cuma akan ada Pura-tachi saja, tapi ternyata kau mengajak mantanmu,”
“Tapi aku sama sekali tidak mengajaknya kok. Kami hanya tidak sengaja bertemu di stasiun,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu akhirnya menaruh ipadnya. “Aku cuma tidak suka bila kau dekat dengan mantanmu. Sama seperti kau cemburu dengan wanita yang dekat denganku dulu,”
“Aku tahu. Tapi aku benar-benar tidak sengaja mendekatinya supaya kau cemburu,” jelas Ryutaro.
“Ya, aku percaya,” Kiyoharu akhirnya menatap Ryutaro, “Tapi tetap saja rasa cemburu itu ada, Ryu-chan,”
“Gomen nee,” ujar Ryutaro sambil menundukkan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah pada Kiyoharu.
Kiyoharu masih menatap Ryutaro lalu menaruh rokoknya di atas asbak. Sekarang justru ia juga diliputi perasaan bersalah karena telah meninggalkan Ryutaro. Kiyoharu akhirnya merangkul Ryutaro, “Maafkan aku juga karena terlalu terbawa emosi tadi,” Kiyoharu mengelus perut Ryutaro, “Padahal kau sedang hamil,” Kiyoharu jadi merasa telah melakukan tindakan bodoh tadi. Ryutaro sedang hamil anak keduanya dan ia malah meninggalkannya begitu saja.
"Kau tidak marah padaku lagi kan?" tanya Ryutaro.
"Tidak kok," jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
“Syukurlah,” Ryutaro terlihat lega.
"Sekarang kau istirahat saja sana," ujar Kiyoharu.
"Tapi aku lapar, aku mau pesan makanan dulu," kata Ryutaro. Ia beranjak bangun dan menuju ke telepon yang tersedia untuk memanggil room service.
Kiyoharu hanya menatapnya tanpa beranjak dari sofa. Ia tahu Ryutaro tidak akan mengkhianatinya, tapi mungkin kehadiran mantannya itu cukup mengganggu pikirannya. Kiyoharu mematikan rokoknya. Ia sudah memutuskan, ia tidak akan membiarkan mantan pacar Ryutaro itu mengganggu hubungan mereka.
***

(to be continued - bersambung ke part 3) ^^

Wednesday, January 19, 2011

Fanfic: Come Home

Author: Ai Yagami Arimura Mori
Genre: yaoi,romance, a little male pregnancy
Pair: Kiyoharu X Ryutaro Arimura
Cast: Plastic Tree and Kiyoharu
BGM:  come home - Kiyoharu

Notes: supaya gk bingung, ini lanjutan dari fanfic sebelumnya yang judulnya The Pregnancy.. kali ini keluarga baru Kiyoharu n Ryutaro jalan-jalan ke Chiba..

Part 1: Departure and Arrival

Ryutaro menggendong Koichi yang masih berumur hampir dua tahun ke kamar mandi. Sore ini ia akan mandi bersama dengan Koichi. Koichi seperti biasa justru asyik sendiri bermain air saat Ryutaro membawanya masuk ke dalam bathtub. Ryutaro terpaksa memeganginya supaya ia tidak sampai tenggelam di dalam bathtub. Ia terpaksa bersabar ketika Koichi tanpa sengaja mencipratkan air ke depan wajahnya.
“Ichi-chan, jangan seperti itu terus, ayo kita mulai mandinya,” ujar Ryutaro ketika Koichi kembali mencipratkan air ke depan wajahnya.
“Ma…,” ujar Koichi yang baru bisa berbicara sedikit kata-kata sambil tersenyum senang.
Ryutaro juga ikut tersenyum, “Ayo, sekarang kita mandi,” ajak Ryutaro. Ia mengambil sabun khusus untuk balita dan mulai mengajari Koichi untuk sabunan, meskipun Koichi tetap saja lebih banyak bermain. Selesai menyabuni tubuh Koichi dan membilasnya, Ryutaro memakai sabunnya sendiri untuk menyabuni tubuhnya. Mendadak saja Koichi justru memeluknya.
“Hey, Ichi-chan,hati-hati,” Ryutaro melepaskan pelukan Koichi sesaat lalu membilas tubuhnya. Ia tidak ingin Koichi kenapa-kenapa karena sekarang Koichi juga suka memegangi sesuatu kemudian memasukkan jarinya ke dalam mulutnya.
Begitu acara mandi bersama mereka selesai, Ryutaro segera mengambil handuk dan segera mengelap tubuh Koichi dan membalut tubuh mungilnya itu dengan handuk kecil. Koichi masih belajar untuk berjalan, jadi Ryutaro sama sekali tidak boleh lengah dalam menjaganya bila tidak ingin terjadi sesuatu pada Koichi. Setelah memakai jubah mandinya, Ryutaro menggendong Koichi keluar dari kamar mandi.
Saat keluar kamar mandi, Koichi tampak memanggil seseorang yang baru saja datang, “Paa….,”
“Hai, kalian baru selesai mandi?” tanya Kiyoharu sambil menghampiri mereka berdua.
“Ya. Okaerinasai, Kiyoharu-san,” jawab Ryutaro.
“Ah iya, tadaima, Ryu-chan,” ujar Kiyoharu kemudian setelah memegang tangan Koichi.
“Kau istirahat saja dulu,” Ryutaro membawa Koichi ke kamarnya. Sementara Kiyoharu melepas lelah di atas sofa.
“Ryu-chan, kau sudah bisa jalan-jalan kan sekarang? Kegiatanmu dengan Pura sudah selesai?” tanya Kiyoharu sambil menyalakan rokoknya.
“Untuk minggu ini sudah kok, memang kenapa?” jawab Ryutaro dari dalam kamar.
“Aku ingin mengajakmu dan Koichi pergi,” ujar Kiyoharu lagi.
Selesai memakai pakaiannya, Ryutaro kembali menemui Kiyoharu dan duduk disampingnya. “Pergi kemana?”
Kiyoharu  mengambil sebuah kertas dan menyerahkannya pada Ryutaro, “Kampung halamanmu,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
“Eh? Chiba?” tanya Ryutaro hampir tidak percaya. Ia membaca kertas yang diberikan oleh Kiyoharu. Disana tertulis jelas kalau Kiyoharu akan mengadakan konser di Chiba. “Heeeeeeh? Benar di Chiba??” Ryutaro terlihat kaget sekaligus senang.
“Ya, karena itu, aku ingin mengajakmu dan Koichi kesana. Koichi juga perlu tahu kan seperti apa kampung halaman mamanya,” jawab Kiyoharu lagi. Ia kembali tersenyum melihat ekspresi senang Ryutaro.
“Sudah lama sekali aku tidak kesana,” Ryutaro masih terlihat senang.
“Aku sudah menyiapkan tiket untukmu,” kata Kiyoharu.
Ryutaro langsung memeluknya, “Arigatou, Kiyoharu-san,”
Kiyoharu juga memeluk Ryutaro, “Yang penting kau senang. Lagipula Koichi kan perlu juga kita ajak jalan-jalan ke tempat lain, jangan hanya di Tokyo saja,”
“Benar sekali. Tapi kau tidak akan membawa wartawan juga kan?” tanya Ryutaro.
“Tidak, tenang saja,” jawab Kiyoharu.
“Kalau begitu kita bisa tenang,” Ryutaro kembali tersenyum. “Terimakasih banyak yah, Kiyoharu-san,”
“Kau kan sudah melahirkan anakku,” Kiyoharu memegang wajah Ryutaro, “Terimakasih juga untuk itu ya?”
Ryutaro langsung mencium bibir Kiyoharu. Mereka berdua berciuman dengan hangat, namun tiba-tiba Kiyoharu menepuk bahu Ryutaro dan menyudahi ciumannya, “Ichi-chan mulai berjalan lagi,” ujarnya.
Ryutaro menoleh dan melihat Koichi berdiri dan berjalan keluar perlahan dari kamarnya. Jalannya masih agak belum stabil dan terkadang ia berpegangan pada apapun yang bisa ia pegang. Kali ini, ia nyaris saja menarik alas meja kecil dimana Ryutaro sedang menaruh ipadnya untuk dicharge.
“Ya ampun, Ichi-chan,” Ryutaro segera bangun dan menghampiri Koichi sebelum Koichi sempat menarik alas meja itu. Ryutaro langsung menggendong Koichi. “Kau itu selalu saja membuat khawatir orang,”
Namun sesaat kemudian Ryutaro meminta Kiyoharu menggendong Koichi sementara ia menuju ke kamar mandi untuk muntah.
Koichi sempat ingin mengikuti Ryutaro tapi Kiyoharu sudah menggendongnya, “Jangan dulu yah, Ichi-chan. Biarkan mamamu istirahat dulu,” ujar Kiyoharu sambil tersenyum pada Koichi. Koichi akhirnya memilih bermain dengan Kiyoharu.
***
Seharian ini Koichi benar-benar tidak ingin lepas dari Kiyoharu. Bahkan saat Kiyoharu sedang bekerja di depan laptopnya, Koichi tetap datang menghampirinya dan menarik-narik bajunya. Ryutaro yang melihatnya hanya tersenyum, “Sepertinya hari ini Ichi-chan ingin dimanjakan olehmu,”
Kiyoharu akhirnya kembali menggendong Koichi, “Baiklah, aku akan menemanimu, tapi jangan macam-macam yah?” Kiyoharu menaruh Koichi dalam pangkuannya. Koichi kelihatan senang. Ia memperhatikan Kiyoharu yang masih sibuk dengan urusannya di depan laptop. Sesekali ia juga mencoba mengambil kertas di hadapannya, namun Kiyoharu cepat-cepat mengambilnya kembali dan meletakkannya jauh dari jangkauan Koichi. Sementara Ryutaro sedang asyik menggunakan ipadnya.
Koichi kembali mengulurkan tangannya, hendak menyentuh keyboard laptop yang sedang digunakan oleh Kiyoharu. Ia baru saja menyentuh ujung laptop itu ketika Kiyoharu cepat-cepat memegang tangan Koichi. “Ichi-chan,” Kiyoharu memasang tampang cemberutnya di hadapan Koichi, membuat tangan mungil Koichi jadi beralih memegang wajahnya sambil mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
Ryutaro melihat ke arah mereka berdua sambil tersenyum. Rasanya saat ini ia adalah orang yang paling bahagia, bisa tinggal bersama dengan orang yang ia cintai dan merawat anak mereka bersama-sama. Meskipun keluarga barunya ini harus disembunyikan sementara dari publik, tapi Ryutaro tetap saja merasa senang. Kali ini Kiyoharu mencium lembut kening Koichi saat Koichi baru saja melepaskan tangan mungilnya dari rambut Kiyoharu. Ya, bagi Ryutaro, ini semua sudah cukup untuknya. Sebuah keluarga baru yang bahagia.
“Ryu-chan, dua hari lagi kita akan berangkat ke Chiba, kau sudah siap-siap?” tanya Kiyoharu.
“Ya, sebagian sudah kusiapkan tadi, sisanya besok. Sekarang tinggal mengerjakan hal-hal yang harus kukerjakan supaya di Chiba nanti kita bisa lebih santai,” jawab Ryutaro.
“Oke, jangan lupa, kau juga harus menjaga kondisimu,” ujar Kiyoharu.
“Tentu saja,” Ryutaro kembali menggunakan ipadnya.
Beberapa lama kemudian, Koichi malah tertidur di atas pangkuan Kiyoharu sambil memeluknya. Dengan tangan kirinya, Kiyoharu menahan tubuh Koichi supaya tidak jatuh dan tangan kanannya kembali menggunakan laptopnya.
“Kalau kau kesulitan, biar aku bawa Ichi-chan ke kamar,” ujar Ryutaro sambil menghampiri Kiyoharu. Namun begitu Ryutaro akan mengambil Koichi, Koichi terbangun dan seolah menolak untuk berpisah dari ayahnya.
“Ichi-chan, ayo,” bujuk Ryutaro.
“Sudah, tidak apa-apa kok, Ryu-chan. Biarkan Ichi-chan disini dulu. Tadi kan kau sendiri yang memintaku untuk memanjakannya,” Kiyoharu membelai lembut rambut Koichi, menenangkannya hingga kembali tertidur.
“Kau tidak kerepotan kan?” tanya Ryutaro.
”Tidak,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
Ryutaro mengambil sebuah kursi lalu duduk di samping Kiyoharu, “Kalau begitu aku juga akan menemanimu,”
“Kau tidak istirahat?” tanya Kiyoharu.
“Aku belum lelah,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu menatap Ryutaro sebentar, “Apa kau cemburu kalau aku sekarang lebih memperhatikan Ichi-chan daripada dirimu?” ujarnya sambil tersenyum.
“Tidak kok,” elak Ryutaro. “Aku hanya ingin berada di dekat anakku,”
“Oh, jadi sekarang kau yang tidak peduli padaku?”
“Bukan begitu,” ujar Ryutaro lagi. “Aku hanya ingin berada di dekat kalian berdua,”
Kiyoharu kembali tersenyum. Tanpa membangunkan Koichi yang masih ada di atas pangkuannya, ia merangkul Ryutaro sebentar, “Tapi kau jangan lupa istirahat yah, ingat, masih ada adiknya Koichi,”
“Iya, tenang saja,”
***
1 hari sebelum berangkat menuju ke Chiba
Ryutaro mulai memasukkan baju-baju yang ingin dibawanya ke dalam koper besar.  Di ruang tengah, Koichi sedang mencoba meraih Kuro, kucing milik Ryutaro yang malah berlari menghindarinya.
“Ichi-chan, jangan mengganggu Kuro,” ujar Ryutaro setelah menutup kopernya. Tapi Koichi sepertinya tidak peduli dan kembali mencoba mengejar Kuro. Namun tiba-tiba ia jatuh terjerembab ke lantai dan pelan-pelan mulai menangis.
“Nah, sudah kubilang kan, jangan mengganggu Kuro,” Ryutaro menggendong Koichi dan menenangkannya sambil memeriksa keadaannya. Untung Koichi tidak terluka, hanya mungkin ia merasa sakit karena terjatuh. “Sudah, jangan menangis ya?” Ryutaro mengelus rambut Koichi.
Suara bel pintu di apartemen itu mengalihkan perhatian Ryutaro, sambil menggendong Koichi, ia membuka pintunya. “Tadashi-kun, Naka-chan,” sapanya saat melihat Tadashi dan Akira datang.
“Hai, Ryu-chan,” sapa Akira, sementara Tadashi langsung memegang tangan Koichi, “Hey, Ichi-kun, kenapa kau menangis?”
“Ichi-chan barusan jatuh, tapi dia tidak apa-apa kok,” jawab Ryutaro.
“Ah, iya, kami membawakan ini untuk Ichi-kun,” Tadashi menunjukkan satu kantong plastik yang ia bawa.
“Apa itu?” tanya Ryutaro.
“Kaos dari tur kita, aku buat khusus untuk Ichi-kun,” jawab Tadashi sambil masuk ke dalam apartemen bersama Akira.
“Wah, terima kasih, Dashi-kun,” Ryutaro terlihat senang.
“Kau mau pergi, Ryu-chan?” tanya Akira setelah memegang tangan Koichi yang masih digendong oleh Ryutaro. Koichi sekarang sudah berhenti menangis.
“Ya, aku mau pergi bersama Kiyoharu-san besok,”
“Kemana?” tanya Tadashi.
“Chiba,” jawab Ryutaro senang.
“Heeeeh? Kalian akan pergi sekeluarga kesana?” tanya Akira.
“Ya, tentu saja. Ichi-chan juga akan ikut. Aku akan mengajaknya berkeliling Chiba nanti,” jawab Ryutaro.
“Rasanya menyenangkan sekali ya bisa kembali ke Chiba,” ujar Tadashi.
“Kalian mau ikut?” tanya Ryutaro.
“Hah? Tapi kau kan bersama Kiyoharu,” ujar Akira.
“Kita bertemu disana saja. Bagaimana?” ajak Ryutaro.
Akira dan Tadashi terdiam, “Boleh saja sih,” jawab Tadashi kemudian.
“Mudah-mudahan tidak ada acara penting minggu ini,” tambah Akira.
***
Hari keberangkatan
Kiyoharu membawa koper besar berisi segala keperluannya bersama Ryutaro. Sementara Ryutaro sendiri masih asyik mengecek barang bawaannya sebelum berangkat.
“Kau yakin sudah membawa semua yang kau perlukan? Perlengkapan untuk Koichi juga sudah?” Kiyoharu memakai sebuah tas ransel juga, tas itu berisi baju-baju milik Koichi.
“Sudah semua. Kuro dan Kuu-chan juga sudah dititipkan,” jawab Ryutaro sambil menutup risleting tasnya. “Kita akan berada disana selama 4 hari kan?”
“Kurang lebih begitu,” jawab Kiyoharu. “Tapi besok mungkin aku harus menyiapkan konserku, jadi besok aku tidak bisa sering-sering menemanimu,”
“Tidak apa-apa,” jawab Ryutaro sambil tersenyum. “Aku bisa berjalan-jalan bersama Ichi-chan,” Ryutaro menghampiri Koichi yang sedang duduk di dekatnya, memakaikan sweater dan sepatu untuk Koichi juga sebuah topi hangat untuknya.
“Ichi-chan, kawaii nee,” ujar Kiyoharu melihat anaknya itu sambil tersenyum.
“Un,” Ryutaro menganggukkan kepalanya. “Senang sekali bisa memilikinya,” Ryutaro mengambil sebuah gendongan bayi dan kemudian menaruh Koichi dalam gendongan itu. Ryutaro lalu memakai topi dan kacamata hitamnya. Sementara Koichi sudah tenang dalam gendongannya. “Ayo kita pergi,” ajak Ryutaro stelah mengambil tasnya.
“Oke,” Setelah memastikan kondisi apartemennya sudah aman, Kiyoharu dan Ryutaro segera pergi menuju ke stasiun kereta untuk menaiki kereta menuju Chiba.
***
Tokyo Station
Kiyoharu menemui beberapa staffnya yang sudah menunggu di lorong bawah tanah Tokyo Station. Setelah memastikan semuanya sudah siap, mereka lalu menuju ke tempat menunggu para penumpang jalur Sobu. Wataru – salah satu teman sekaligus staff Kiyoharu- menoleh ke arah Ryutaro yang masih menggendong Koichi. Koichi tampak hanya terdiam memperhatikan sekitarnya. “Ini pasti Koichi ya?” tanya Wataru sambil mendekati Koichi.
“Ya,” jawab Ryutaro.
“Hai, Koichi-kun,” sapa Wataru namun Koichi malah membalikkan badannya dan membenamkan kepalanya di dada Ryutaro. Ryutaro tertawa melihatnya.
“Dia takut padamu, Wataru-san,” komentar Ryutaro.
“Wah, Koichi-kun, jangan takut padaku,” bujuk Wataru.
Kiyoharu tersenyum, “Sepertinya dia mewarisi sifat mamanya ya,”
“Kelihatannya begitu,” ujar Ryutaro.
Tak lama kemudian, kereta yang akan mereka naiki tiba. Bersama dengan rombongan yang lain, Kiyoharu dan Ryutaro menaiki kereta itu.
***
Dalam Perjalanan menuju Chiba
Koichi sudah duduk di atas pangkuan Kiyoharu sekarang, sedangkan di sampingnya Ryutaro sedang sibuk dengan ipadnya. Supaya tidak mengganggu Ryutaro, Koichi dibiarkan memegang boneka nekozirushi yang sudah berada dalam pelukannya. Kiyoharu iseng-iseng menggunakan handphonenya untuk memotret Koichi yang sedang memeluk nekozirushi.
“Ryu-chan, apa kita akan mampir ke rumahmu juga nanti?” tanya Kiyoharu.
“Ya, boleh saja. Sudah lama sekali aku tidak pulang kesana,” jawab Ryutaro.
“Lalu mereka sudah tahu soal Koichi?”
“Okaasan sudah tahu kok. Karena itu kita harus mampir sebentar kesana,” jawab Ryutaro.
“Jadi, Ichi-chan akan bertemu dengan keluargamu yah?”
“Kurasa mereka pasti senang,” ujar Ryutaro.
Koichi mengalihkan pandangannya kembali ke Ryutaro dan mencoba menggapainya. “Ichi-chan, jangan nakal begitu,”
“Ah,” Ryutaro teringat sesuatu. Ia menaruh ipadnya kembali ke dalam tas dan mengeluarkan sebungkus biskuit untuk balita. Lalu menyerahkan sepotong biskuit untuk Koichi. Koichi mengambilnya, namun ia tetap menggapai ke arah Ryutaro.
“Mungkin dia ingin berada di dekatmu,” ujar Kiyoharu sambil menyerahkan Koichi ke Ryutaro. Ryutaro menaruh Koichi di atas pangkuannya. Koichi memakan biskuitnya sambil melihat ke luar jendela. “Jangan lama-lama ya, nanti kau bisa pusing,” ujar Ryutaro.
Tak lama kemudian, Koichi terlihat bosan dan kembali diam sambil menikmati biskuitnya di atas pangkuan Ryutaro.
***
45 menit kemudian
Chiba Station
Akhirnya rombongan itu sampai ke Chiba. Ryutaro kembali menggendong Koichi. Ia terlihat senang. “Ah, Chiba-shi. Tadaima,” ujarnya.
“Okaeri, Ryu-chan,” sambut Kiyoharu sambil tersenyum.
“Tempat ini benar-benar mengingatkanku pada banyak kenangan yang indah,” Ryutaro lalu melihat ke arah Koichi, “Ichi-chan, lihat, ini adalah Chiba. Dulu aku dibesarkan disini,” Koichi melihat sekelilingnya sambil diam.
“Kita ke hotel dulu saja ya,” ujar Kiyoharu, namun ternyata Ryutaro tidak terlalu memperhatikannya.
“Wuaaah, Chiba monorail, dulu aku selalu pulang menggunakan monorail itu,” ujar Ryutaro saat melihat lintasan monorail di dekat stasiun tempat mereka turun. Koichi ikut-ikutan menoleh ke atas melihat monorail itu. “Tenang, Ichi-chan, nanti akan kuajak kau naik monorail itu,”
Kiyoharu tertawa kecil. “Kalian berdua jadi mirip begitu,” Kiyoharu lalu merangkul Ryutaro, “Setelah performku selesai, akan kutemani kalian berkeliling Chiba, bagaimana?”
“Boleh saja,” ujar Ryutaro.
“Sekarang kita ke hotel dulu ya,” ajak Kiyoharu. Mereka lalu menuju ke hotel bersama rombongan Kiyoharu yang lain. Koichi masih terdiam di gendongan Ryutaro. Sepertinya ia belum terbiasa dengan daerah ini.
***
Chiba Hotel
Kiyoharu segera melakukan meeting untuk performnya besok bersama para staff dan juga band pengiringnya. Malam ini rencananya ia juga akan menuju ke hall untuk persiapan acaranya besok. Otomatis Ryutaro dan Koichi hanya bisa menunggunya di hotel. Bosan menunggu di kamar hotel, Ryutaro akhirnya mengajak Koichi berjalan-jalan di sekitar hotel itu. Sambil menggendong Koichi, Ryutaro memakai kacamata hitamnya, sebuah tas kecil dan keluar dari area hotel itu. Rasanya nyaman sekali bisa kembali ke kampung halamannya ini. Sebenarnya ia sudah tidak sabar ingin menemui keluarganya, namun ia sudah berjanji untuk kesana bersama dengan Kiyoharu. Suasana di kota ini kembali membuatnya teringat dengan masa lalu, masa-masa awal dibentuknya Plastic Tree, sampai semua kenangannya saat sekolah dan juga saat ia mencintai seseorang yang sekarang sudah tidak pernah ia temui lagi.
Ryutaro mendesah. Entah kenapa ia kembali teringat dengan orang itu. Tarikan tangan kecil Koichi pada bajunya menyadarkan lamunannya. “Ah, Ichi-chan, kenapa?”
Koichi mengatakan sesuatu yang tidak jelas dan menarik-narik baju Ryutaro.
“Ada apa, kau mau apa?” tanya Ryutaro.
Koichi masih tetap menarik bajunya. Ryutaro agak bingung, tapi untungnya di dekatnya ada sebuah taman kecil. Ryutaro membawa Koichi duduk di salah satu bangku taman, “Kau haus ya? Sebentar yah,” Ryutaro menaruh tas kecil yang dibawanya dan mengambil sebotol susu yang sudah ia siapkan sebelumnya lalu menyerahkannya pada Koichi. Koichi segera meminum susunya sementara Ryutaro menaruh Koichi di atas pangkuannya dan memegangi botol susu yang sedang diminum oleh Koichi. Ia sempat tersenyum melihat Koichi yang kembali tenang.
Tanpa disadari oleh Ryutaro, ada seorang laki-laki yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia memperhatikan Ryutaro. “Apa itu benar-benar Ryu-chan? Tapi kenapa ia menggendong bayi?” gumam laki-laki itu.
***

(to be continued- bersambung ke part 2) ^^

Thursday, December 30, 2010

The Pregnancy Part 4 (last part)

Author: Ai Yagami Arimura Mori
Genre: yaoi,male pregnancy,humor
Pair: Kiyoharu X Ryutaro Arimura
Cast: Plastic Tree and Kiyoharu + SADS
BGM: samidare - Kiyoharu + balloon - Plastic Tree

Part 4

Kali ini Ryutaro butuh waktu agak lama untuk bangun dari tempat tidur. Perutnya yang terasa besar juga mulai menyulitkannya untuk menunduk ke bawah. Tapi Ryutaro masih tetap berusaha untuk melakukan semuanya sendiri. Kiyoharu yang melihat Ryutaro tampak kesulitan mengambil pakaiannya dan memakai sendalnya segera membantunya.
“Jadi repot yah,” ujar Ryutaro.
“Tidak apa-apa kok,” Kiyoharu tersenyum.
“Tapi kau jangan terlalu sering membantuku. Aku mau mencoba melakukan semuanya sendiri. Jadi kalau nanti kau ada urusan, aku tidak tergantung padamu,” kata Ryutaro.
“Baiklah, tapi kalau aku ada di dekatmu, aku pasti akan membantumu,” ujar Kiyoharu.
Ryutaro tersenyum lalu ia menuju ke kamar mandi. Setelah itu ia bersiap-siap untuk pulang bersama Kiyoharu. Hari ini mereka akan kembali pulang ke Tokyo. Sesampainya di Tokyo, Ryutaro masih harus melakukan persiapan tampil untuk sebuah acara TV.
Setelah membantu Ryutaro membereskan perlengkapannya, Kiyoharu menemani Ryutaro keluar dari kamar. Kiyoharu membawa koper mereka sementara Ryutaro membawa tas ranselnya yang tidak terlalu berat karena Kiyoharu dan teman-temannya sudah membawa barang-barang yang lebih berat. Mereka lalu berkumpul di lobby untuk menunggu manajer mereka melakukan check-out.
Ryutaro memperhatikan sekitarnya. Ia memilih duduk di kursi lobby ketika yang lainnya mengurusi check-out mereka.
Kali ini ia sudah bersiap-siap seandainya wanita yang kemarin mengganggu Kiyoharu muncul lagi. Tadinya ia merasa lega begitu wanita itu tidak muncul di area lobby itu, tapi kelegaannya tidak berlangsung lama. Ketika rombongan SADS sudah pergi duluan, wanita itu justru muncul tepat saat Kiyoharu dan Ryutaro yang memang pergi belakangan akan menuju ke pintu keluar.
“Ah, kita bertemu lagi,” ujar wanita itu sambil tersenyum. Sepertinya bekas tamparan Ryutaro telah ia tutupi dengan make-up.
Kiyoharu langsung menarik tangan Ryutaro. Meskipun Ryutaro berusaha untuk tetap berada disana.
“Kebetulan sekali, aku belum membalas perbuatanmu,” wanita itu menatap Ryutaro dengan pandangan benci.
Ryutaro menatapnya dengan pandangan yang tidak kalah tajamnya, “Ternyata yang kemarin belum cukup ya?”
“Ryu-chan, sudahlah,ayo,” ajak Kiyoharu.
Lagi-lagi wanita itu memperhatikan Ryutaro dari atas ke bawah. Ryutaro yang masih mengenakan baju yang lebar dan panjang, celana panjang, dan sendal favoritnya serta memakai kacamata sekarang memang berbeda jauh dengan stylenya yang selalu tampil dengan rok pendek dan high heels.
“Aku masih heran kenapa kau memilih orang seperti dia jadi pacarmu, Kiyo-chan. Sepertinya seleramu mengalami penurunan ya?” ejek wanita itu.
“Yah, anggap saja seperti itu. Yang jelas, dia memiliki apa yang tidak kau punya,” jawab Kiyoharu.
Wanita itu tertawa. “Dia memiliki apa yang tidak aku punya? Contohnya?”
Ryutaro melepaskan diri dari pegangan Kiyoharu. Ia lalu mendatangi wanita itu, “Dengar ya, aku sudah bilang padamu kan, jangan ganggu kami lagi, apa perlu aku bertindak lebih kasar lagi padamu?”
“Aku tidak takut pada ancamanmu,” wanita itu balas menantang Ryutaro. Begitu Ryutaro berada di dekatnya ia langsung menyerangnya dengan cara mendorong tubuh Ryutaro. Ryutaro sempat terdorong ke belakang dan dorongan wanita itu sempat mengenai bagian perutnya. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
Wanita itu sempat tersentak, seakan menyadari sesuatu dan menatap Ryutaro lagi, “Oh, jadi kau hamil yah?”
Ryutaro tidak menjawabnya, ia hanya menatap wanita itu dengan pandangan tajam.
“Jangan bilang kau memakai kehamilanmu untuk memperdaya Kiyoharu ya? Siapa yang tahu kau pernah tidur dengan siapa saja sebelum Kiyoharu. Trik murahan,” ledek wanita itu.
“Kau sendiri juga sama. Setidaknya aku tidak mendekati orang hanya karena menginginkan popularitasnya dan uangnya saja,” balas Ryutaro yang dengan susah payah bisa kembali berdiri.
Wanita itu mengayunkan tangannya untuk menampar Ryutaro tapi sebelum Ryutaro sempat bertindak, Kiyoharu sudah lebih dulu menangkap tangan wanita itu, “Jangan sentuh dia lagi. Aku serius,” tegas Kiyoharu. Ia memegang tangan wanita itu dengan erat sampai wanita itu agak meringis kesakitan dan Kiyoharu baru melepaskan cengkeraman tangannya.
“Kenapa sih kau sampai begitu melindunginya? Dulu kau tidak seperti ini,” protes wanita itu.
"Itu karena aku benar-benar mencintai dia,” jawab Kiyoharu. Kali ini ia terlihat begitu serius. Ryutaro menatap Kiyoharu. Sepertinya kesabaran Kiyoharu juga sudah habis pada wanita ini. Bekas cengkeraman Kiyoharu terlihat sedikit memerah di pergelangan tangan wanita itu.
“Kalau kau sampai melukainya lagi, aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku,” tegas Kiyoharu. Ia lalu mengajak Ryutaro pergi. Tapi Ryutaro tetap berada disana, menatap wanita itu yang masih memegangi pergelangan tangannya.
“Sebaiknya mulai sekarang kau melupakan Kiyoharu-san. Ini untuk kebaikanmu sendiri,” tegas Ryutaro.
Wanita itu masih terlihat kesal. Sepertinya ia masih ingin membalas tamparan Ryutaro padanya kemarin. Ryutaro juga sebenarnya ingin sekali memukul wanita ini lagi, tapi Kiyoharu kemudian menarik tangannya. Mereka sudah ditunggu oleh personil SADS yang lain yang sudah pergi duluan. Kiyoharu dan Ryutaro kemudian menuju ke tempat mereka. Ryutaro masih sempat mendengar wanita itu melancarkan protesnya. Ryutaro sempat menoleh ke arahnya dan mengacungkan jari tengah ke arah wanita itu.
Kiyoharu langsung merangkul Ryutaro dan tertawa, “Sejak kapan kau jadi tidak sopan begitu?”
“Memangnya tidak boleh? Aku rasa kita tidak perlu sopan-sopan terhadapnya,” jawab Ryutaro dengan nada kesal.
Kiyoharu hanya tersenyum dan mencium kening Ryutaro. “Kau tidak apa-apa kan? Perutmu tidak sakit?”
“Tidak apa-apa,” jawab Ryutaro singkat. Tampangnya masih terlihat kesal.
“Kau masih kesal yah?” tanya Kiyoharu.
Ryutaro hanya diam. Ia sebenarnya memang masih marah. Tapi entah kenapa tak lama kemudian emosinya mereda. “Aku tidak mau berurusan dengan wanita itu lagi,”
“Tenang saja, aku juga sudah lelah berurusan dengan dia,” ujar Kiyoharu.

*
Sesampainya di Tokyo, Ryutaro mulai disibukkan dengan kegiatannya yang baru yaitu persiapan tampil di sebuah acara musik di sebuah stasiun TV terkenal. Karena berat badan Ryutaro yang mulai bertambah, ia harus menyiapkan kostumnya sendiri dan harus bisa menutupi perutnya yang mulai membesar.
Untungnya di acara itu jadwal penampilan Plastic Tree memang tidak lama, jadi Ryutaro bisa cukup beristirahat setelahnya.
Kali ini kebetulan Kiyoharu bisa mengantarnya menuju ke stasiun TV tersebut, meskipun Kiyoharu tidak bisa menemaninya masuk ke dalam.
Ketika sedang menuju ke stasiun TV tersebut, Ryutaro hanya memegangi perutnya. Kiyoharu yang sedang menyetir mobilnya terlihat sedikit cemas.
“Kenapa, Ryu-chan?”
“Tidak, hanya saja, perutku sedikit sakit sekarang, entah kenapa,” jawab Ryutaro.
“Kau sudah minum vitaminnya kan?” tanya Kiyoharu.
“Sudah kok,” jawab Ryutaro. “Mungkin ini karena dia sedang aktif-aktifnya di dalam perutku,”
“Dia menendangmu terus yah?” tanya Kiyoharu sambil sekilas menatap ke arah Ryutaro.
“Ya, dia tidak bisa diam,” jawab Ryutaro sambil tersenyum. “Kata dokter setelah ini kau harus siap-siap, aku bisa saja melahirkan sewaktu-waktu,”
“Iya, aku tahu. Kau tenang saja. Makanya kau sekarang jangan terlalu aktif dulu,” ujar Kiyoharu.
Ryutaro kembali terdiam dan memegangi perutnya lagi.
“Kiyoharu-san, seandainya anak ini bukan anakmu bagaimana?” tanya Ryutaro pelan.
“Bodoh, kau memikirkan perkataan wanita itu ya? Jangan dipikirkan. Aku yakin kok dia itu anakku,” ujar Kiyoharu. Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, jadi Kiyoharu mempunyai sedikit waktu untuk menatap Ryutaro, “Memangnya dengan siapa lagi kau melakukannya?”
“Kau kan tidak tahu apa yang kulakukan kalau kau tidak ada,” kata Ryutaro lagi.
Kiyoharu memegang tangan Ryutaro, “Ryu-chan, kalau kau memang orang yang seperti itu, kau tidak akan segugup itu waktu kita pertama kali melakukannya. Aku percaya padamu, jadi hilangkan pikiran negatif itu dari pikiranmu. Jangan dengarkan kata-kata orang lain yang menuduhmu macam-macam,” Kiyoharu menggenggam tangan Ryutaro, “Lagipula aku yakin kau bukan tipe orang yang suka selingkuh,”
Begitu lampu lalu lintas menunjukkan warna hijau, Kiyoharu melepaskan genggaman tangannya dan kembali menyetir.
“Memang benar sih,” ujar Ryutaro perlahan.
“Sudah, jangan pikirkan kata-kata wanita itu lagi,” hibur Kiyoharu.
“Ya,” ujar Ryutaro sambil tersenyum.
*
Penampilan Plastic Tree di acara TV itu disambut meriah oleh para fansnya yang sudah menunggu penampilan mereka sejak mereka vakum sementara. Memang acara ini bukan berarti Plastic Tree akan kembali melakukan tour, tapi setidaknya bisa mengobati kerinduan para fansnya yang ingin bertemu dengan mereka. Ryutaro langsung beristirahat di sofa setelah mereka tampil. Akira segera menghampirinya, “Sekarang sudah 7 bulan ya Ryu-kun?”
“Ya, tinggal 2 bulan lagi dia akan lahir,” jawab Ryutaro.
“Aku jadi tidak sabaran ingin melihat seperti apa dia,” ujar Tadashi.
“Aku juga begitu,” komentar Ryutaro sambil tersenyum.
“Kau sudah menyiapkan nama untuknya?” tanya Kenken.
“Belum,” jawab Ryutaro, ia kembali mengusap perutnya. “Aku bahkan belum tahu jenis kelaminnya,”
“Eeeeh? Kenapa tidak kau tanyakan saja ke dokter kandunganmu?” tanya Kenken lagi.
“Tidak, nanti saja. Yang penting dia selamat. Kiyoharu-san juga bilang begitu,” jawab Ryutaro. Ia lalu mengambil i-padnya dan mulai mengecek twitternya. Seperti biasa banyak mention yang masuk untuknya. Bahkan Kiyoharu pun mengirimkan mention untuknya. Sambil tersenyum, Ryutaro membalas mention Kiyoharu. Tapi kemudian ada seseorang yang tampaknya langsung menanggapi pembicaraan mereka berdua. Tadinya Ryutaro menganggapnya hanya fans biasa. Tapi entah kenapa akhirnya ia membuka profil orang itu juga.
Ryutaro sedikit kaget melihat timeline orang itu yang dipenuhi dengan mention ke dirinya dan juga Kiyoharu. Malah sepertinya ia sangat terobsesi dengan dirinya hingga setiap saat ia selalu mengirimkan mention ke dirinya. Ia juga sepertinya meneror Kiyoharu dengan kata-kata yang sedikit tidak menyenangkan setiap kali Kiyoharu mengirimkan mention untuknya.
“Kenapa, Ryu-kun?” tanya Tadashi yang melihat perubahan ekspresi pada wajah Ryutaro.
“Aneh, orang ini, dia hanya menjadi followers aku dan Kiyoharu-san. Semua timeline-nya dipenuhi oleh mentionnya padaku dan Kiyoharu-san,” jawab Ryutaro sambil menyodorkan i-padnya ke Tadashi.
“Wah, aneh juga. Mungkin dia terobsesi padamu dan Kiyoharu-san. Kalian kan terlihat dekat sekali di twitter,” jelas Tadashi.
“Tapi, sepertinya dia agak kurang suka dengan Kiyoharu-san, lihat saja,” Ryutaro menunjukkan sebuah mention dari orang itu ke Kiyoharu yang intinya meminta Kiyoharu tidak terlalu dekat dengan Ryutaro.
“Hmmm, berani juga dia,” komentar Tadashi.
“Dia pasti stalkermu, Arimura-san,” tambah Kenken.
“Stalker??”
“Ya, stalker. Dia terlalu terobsesi padamu, Arimura-san,” ujar Kenken.
“Sebaiknya kau berhati-hati saja, Ryu-kun,” saran Akira.
Ryutaro hanya menganggukkan kepalanya.

*
Usia kehamilan 8 bulan
Sejak peristiwa itu, Ryutaro mulai berhati-hati setiap ia akan pergi kemana-mana. Perutnya juga semakin terasa berat. Membuatnya kadang malas jalan. Kiyoharu sekarang sedang berada di Shinjuku untuk membuka toko aksesorisnya yang baru. Jadi ia hanya berada di apartemen sendirian. Sejak Ryutaro tahu soal stalkernya di twitter, Ryutaro makin berhati-hati bila berada di luar. Akhir-akhir ini juga Ryutaro sering merasa seperti diikuti oleh seseorang, tapi ia masih beranggapan mungkin saja itu karena kekhawatirannya yang berlebihan terhadap stalker itu.
Ryutaro baru saja menjalani pemeriksaan di dokter kandungannya. Tadi ia mendapatkan hasil USG bahwa anak yang ada di kandungannya adalah laki-laki. Ryutaro tampak senang mendapatkan kabar itu. Meskipun nanti anaknya perempuan pun, ia akan tetap senang juga. Yang terpenting ini adalah buah cintanya dengan Kiyoharu dan anak ini tetap sehat, meskipun beberapa kali Ryutaro sempat mengalami rasa sakit pada perutnya.
Hari ini, Ryutaro ingin memberikan sebuah kejutan untuk Kiyoharu. Rencananya ia akan memasak makanan untuk menyambut kepulangan Kiyoharu nanti. Sekali-sekali ia ingin memasakkan sesuatu untuk Kiyoharu dan bukannya makan di luar seperti biasanya atau menunggu Kiyoharu memasakkan sesuatu untuknya.
Ryutaro menyemangati dirinya sendiri dan mulai belanja untuk mempersiapkan makan malam mereka. Kiyoharu pasti pulang malam hari ini, ia sudah berjanji untuk pulang cepat setelah acaranya selesai. Hari ini, ia akan membuatkan sukiyaki untuk Kiyoharu, karena itu ia lalu beranjak ke sebuah toko daging untuk membeli daging sukiyakinya. Saat sedang memilih-milih daging yang akan dibelinya, Ryutaro merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ryutaro menoleh, tapi tidak ada orang yang mencurigakan berada di belakangnya. Semuanya sedang sibuk belanja. Ryutaro kemudian meneruskan memilih. Kali ini ia merasakannya lagi. Ada seseorang yang sedang memperhatikannya. Ryutaro mencoba mengacuhkannya dan melanjutkan belanjanya. Setelah membeli daging dan semua bahan-bahan yang lainnya, Ryutaro pun pulang. Lagi-lagi ia merasa diikuti oleh seseorang.
Ryutaro mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Kiyoharu namun sepertinya Kiyoharu tidak dapat menjawabnya. Mungkin ia sedang sibuk. Ryutaro kemudian mengirimkan email ke Tadashi dan memberitahukan keadaannya. Orang itu masih mengikutinya. Kali ini Ryutaro dapat melihatnya sekilas. Orang yang sedang mengikutinya mengenakan jas dan topi, perawakannya sedang dan tingginya setara dengan Tadashi. Ryutaro tadinya ingin langsung melabrak orang itu, walaupun Tadashi memberinya saran untuk memutar jalan supaya si stalker itu tidak dapat menemukan apartemennya. Ryutaro berjalan cukup cepat lalu membalikkan tubuhnya. Tapi stalker tadi sudah menghilang. Mungkin ia sedang bersembunyi.
Ryutaro cepat-cepat melanjutkan perjalanan pulangnya menuju ke apartemennya.
*
“Apa? Kau diikuti stalker?” tanya Kiyoharu kaget. Hampir saja ia tersedak bir yang ia minum begitu Ryutaro memberitahukan padanya kejadian yang baru dialaminya tadi.
“Ya. Tapi begitu aku mau menghadangnya, dia malah menghilang,” jawab Ryutaro sambil memasukkan daging sukiyakinya ke dalam hot pot. “Akhir-akhir ini juga sepertinya ada yang mengikutiku. Sejak aku tahu ada seseorang di twitter yang selalu mengirimiku mention yang aneh, aku jadi merasa diikuti orang akhir-akhir ini. Tadinya aku pikir itu perasaanku saja,” jelas Ryutaro.
“Tunggu dulu, mention yang aneh? Maksudmu?” tanya Kiyoharu heran.
Ryutaro dengan susah payah bangun dan mengambil i-padnya. Ia lalu membuka twitternya dan mengecek mention untuknya. Benar saja, orang itu mengirimkan mention lagi untuknya. Ia lalu menyerahkan i-padnya pada Kiyoharu. Kiyoharu membacanya dan agak kaget melihat mention dari orang itu yang mengatakan kalau Ryutaro tampak cantik dan ingin makan bersamanya.
“Apa mungkin dia stalker yang sama yang ada di twitter ini? Sepertinya mention ini mencurigakan sekali,” tanya Kiyoharu lagi.
“Entahlah. Mungkin saja,” jawab Ryutaro. “Dia juga sepertinya tidak menyukaimu. Lihat saja, tiap kita saling berkomunikasi di twitter, dia langsung mengirimimu mention yang menunjukkan rasa tidak sukanya padamu,”
“Ya ampun, sepertinya aku harus mengawalmu kemana-mana setelah ini,” Kiyoharu melihat timeline orang itu dan makin heran dengan obsesi orang ini terhadap Ryutaro.
“Kalau dia membencimu, bukankah kau juga akan menjadi targetnya? Itu lebih berbahaya,” ujar Ryutaro.
“Ryu-chan, kalau stalker itu mengincarku justru tidak masalah, asalkan dia tidak mengincarmu. Dia bisa saja menculikmu dan menyekapmu. Bayangkan saja kalau itu terjadi, bagaimana dengan keselamatan dirimu nantinya? Bagaimana dengan anak kita?” ujar Kiyoharu.
“Benar juga,” gumam Ryutaro.
“Kalau aku tidak bisa bersamamu, aku akan meminta Tadashi-san, Kenken-san atau Akira-san untuk menemanimu. Pokoknya kau tidak boleh sendirian lagi,” ujar Kiyoharu lagi.
Ryutaro mengambil sepotong daging yang sudah cukup matang, “Baiklah. Lagipula, badanku jadi tambah berat sekarang. Malas rasanya pergi terlalu jauh,” Ia menaruh potongan daging itu di mangkok Kiyoharu.
“Tadi kau ke dokter kan? Bagaimana hasilnya?” tanya Kiyoharu sambil menaruh kembali i-pad Ryutaro ke atas meja kecil di dekat mereka.
“Anak kita laki-laki,” jawab Ryutaro sambil tersenyum.
“Laki-laki?” Kiyoharu tampak senang.
“Ya, dia sehat-sehat saja kok,” lanjut Ryutaro.
“Syukurlah. Jadi, kau memasak ini untuk merayakannya ya?” Kiyoharu tersenyum.
Ryutaro mengangguk. Tapi kemudian ia memegangi perutnya dan sedikit merintih kesakitan.
“Ryu-chan,” Kiyoharu segera menghampiri Ryutaro. “Oi, Ryu-chan, kenapa? Kau sakit? Ryu-chan,” Kiyoharu mulai panik. Sementara Ryutaro berusaha menahan rasa sakit di perutnya.
*
Ryutaro kembali terbangun di rumah sakit. Ia melihat Kiyoharu yang sedang memegang tangannya di sampingnya.
“Kenapa aku di rumah sakit lagi?” tanya Ryutaro.
“Aku khawatir padamu tadi. Kau pingsan lagi di rumah. Dokter bilang kau harus istirahat dulu. Sepertinya ada perubahan posisi pada janinmu. Kalau kau banyak beraktifitas bisa-bisa kau melahirkan prematur,” jelas Kiyoharu.
Ryutaro memegang perutnya. Ia dapat merasakan tendangan halus dari bayinya. “Tapi dia masih sehat kok. Dia masih aktif,” jawab Ryutaro.
“Iya, dia masih sehat,tapi untuk berjaga-jaga lebih baik kau istirahat dulu,” ujar Kiyoharu.
“Kiyoharu-san,” Ryutaro menggenggam tangan Kiyoharu.
“Ada apa?” Kiyoharu menatap Ryutaro.
“Aku tidak mau melahirkan bayi ini,” jawab Ryutaro pelan.
“Haaaah??” Kiyoharu tampak bingung dengan perkataan Ryutaro. “Kau itu ada-ada saja,”
“Aku suka dia berada dalam perutku. Membuatku merasa tidak sendirian lagi. Seandainya saja dia tidak perlu dilahirkan, pasti menyenangkan,” ujar Ryutaro lagi.
Kiyoharu tertawa. “Memangnya kau mau dia terus-terusan dalam perutmu, Ryu-chan? Kalau kau memang ingin punya anak lagi ya kita buat lagi saja setelah dia lahir,”
Ryutaro langsung memalingkan wajahnya dari Kiyoharu, “Pikiranmu langsung kesitu saja,”
“Tapi kau menyukainya kan? Kau sendiri juga menginginkannya, akui sajalah,” goda Kiyoharu.
Ryutaro tidak berkomentar apa-apa, ia malah hampir tersenyum. Kiyoharu memegang wajahnya dan membuatnya kembali menatapnya. Ia langsung mencium bibir Ryutaro.
Suara ketukan di pintu membuat Ryutaro segera mengakhiri ciumannya dan langsung menjauhkan wajahnya.
“Wah, sepertinya aku mengganggu yah,” komentar Tadashi yang baru sampai ke kamar rumah sakit itu.
Kiyoharu tertawa, “Tidak kok. Cepat juga kau datang,”
“Ternyata timingku memang tidak tepat ya,” ujar Tadashi sambil tersenyum.
“Kau tahu darimana aku dirawat?” tanya Ryutaro.
Tadashi langsung menunjuk ke arah Kiyoharu, “Kiyoharu-san yang memberitahu lewat email,”
“Tadi aku sedang panik, makanya aku mengirimkan email ke teman-temanmu juga,” jelas Kiyoharu.
Setelah mereka bertiga berbincang-bincang sebentar, Kiyoharu lalu mengajak Tadashi keluar dari kamar, “Kau tahu soal stalker yang mengikuti Ryu-chan?” tanya Kiyoharu.
“Ya, dia mengikuti Ryu-kun sampai di dunia nyata ya?”
Kiyoharu menganggukkan kepalanya, “Kita harus melakukan sesuatu sebelum stalker itu bertambah nekat,”
“Bagaimana kalau kita jebak dia, lalu kita laporkan ke polisi?” saran Tadashi.
“Ide yang bagus,” Kiyoharu tampak setuju.
*

“Kiyoharu-san, bagaimana dia tahu kalau aku dirawat?” tanya Ryutaro agak panik setelah ia melihat mention yang ditujukan padanya dari stalker yang setia mengiriminya mention.
“Mungkin hanya kebetulan saja, Ryu-chan, kau jangan panik dulu,” jawab Kiyoharu sambil menenangkan Ryutaro. Ia lalu meminjam i-pad Ryutaro.
“Kau pakai i-padku dulu saja ya,” ujarnya. Ia memberikan i-pad miliknya ke Ryutaro.
“Eh? Tapi....,”
“Ini supaya kau tidak terganggu lagi,” ujar Kiyoharu. Ia lalu keluar sambil membawa i-pad Ryutaro. Jika stalker itu tahu Ryutaro dirawat, dia pasti ada di sekitar sini. Kiyoharu membuka twitter di i-pad milik Ryutaro. Ia memperhatikan mention dari stalker itu kemudian memperhatikan orang-orang yang ada disana. Bila mention itu baru saja masuk, berarti dia masih ada disini dan sedang mencari kamar Ryutaro. Sebuah mention dari stalker itu muncul lagi. Kiyoharu membalasnya. Lalu memperhatikan orang di sekelilingnya. Ada seorang laki-laki yang sedang duduk di ruang tunggu, dia sedang asyik dengan handphonenya dan sepertinya sedang tersenyum sendiri. Kiyoharu mulai mencurigainya karena ada sebuah mention lagi yang masuk dan menyatakan kalau ia bahagia dengan balasan dari Ryutaro.
Kiyoharu segera duduk di samping laki-laki itu begitu melihat kursi di sampingnya kosong. Orang itu sepertinya tidak menyadarinya. Ia masih asyik dengan handphonenya dan Kiyoharu dapat melihat sekilas kalau ia sedang membuka twitter.
“Sepertinya menarik yah?” tegur Kiyoharu.
Laki-laki itu dengan kaget menoleh dan makin kaget melihat Kiyoharu ada di sampingnya. “Ki.. Kiyoharu-san....,”
“Rupanya kau yang selama ini jadi stalkernya Ryu-chan yah?” tanya Kiyoharu.
“A.. apa? Bukan...,” Laki-laki itu mencoba mengelak.
Kiyoharu tersenyum lalu menunjukkan i-padnya, “Sayang sekali, tadi itu aku yang membalasnya, bukan Ryu-chan,”
Laki-laki itu menatap Kiyoharu, “Kau.....” Ekspresi wajahnya sesaat berubah. Sepertinya ia kesal.
“Tolong ya, jangan mengganggu Ryu-chan lagi. Kalau kau memang mengidolakannya, jangan lakukan hal seperti ini, menjadi stalkernya dan mengikutinya kemanapun. Itu hanya akan membuatnya takut, kau mengerti?” ujar Kiyoharu.
Laki-laki itu terdiam, “Kau yang tidak mengerti. Kau tidak akan mengerti betapa aku mengagumi Ryutaro-kun. Dia itu segalanya,”
“Percayalah, aku mengerti kok,” ujar Kiyoharu, “Karena itu jangan lakukan hal ini lagi. Lebih baik kau mengaguminya tapi dalam batas-batas yang wajar dan tidak menjadi stalkernya lagi. Kalau kau masih nekat, kau terpaksa berakhir di kantor polisi sekarang,”
“Kau sendiri juga harus menjauhinya,” protes laki-laki itu.
“Wah, kalau soal itu aku tidak bisa. Maaf saja,” jawab Kiyoharu. Ia lalu berdiri, “Sekarang kau tinggal pilih, mau menjauhi Ryutaro atau masuk ke penjara?”
“Ryutaro-kun tidak akan melaporkanku,” laki-laki itu tampak marah.
“Kiyoharu-san,” panggil Ryutaro tepat sebelum laki-laki itu memukul Kiyoharu. Laki-laki itu menoleh dan melihat Ryutaro yang berjalan ke arah mereka.
“Ryu-chan, kenapa kau kesini?” Kiyoharu baru saja ingin menghampiri Ryutaro tapi laki-laki itu sudah lebih dulu ke arahnya.
“Ryutaro-kun, kau tidak keberatan kan? Kau tidak keberatan aku ada di dekatmu kan?” ujar laki-laki itu.
“Maaf, aku tidak suka dengan caramu, tolong berhentilah mengikutiku,” ujar Ryutaro. Ia agak takut melihat laki-laki ini.
“Aku menyukaimu, Ryutaro-kun, aku memujamu,” laki-laki itu mendekati Ryutaro. Ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh Ryutaro namun Ryutaro lebih dulu menangkap tangannya dan melaporkannya ke petugas keamanan.
“Sepertinya kau sudah tahu rencanaku yah?” komentar Kiyoharu begitu urusan mereka dengan stalker itu selesai.
“Kebetulan aku memikirkan hal yang sama denganmu untuk menjebak stalker itu, tapi kau duluan yang melakukannya,” ujar Ryutaro.
*
Usia kehamilan 9 bulan
Ryutaro sudah kembali berada di apartemennya. Akhir-akhir ini ia menjadi sangat gelisah. Mungkin karena waktu melahirkannya yang sudah dekat. Berulang kali ia tidak bisa tidur di malam hari. Entah kenapa ia merasa gugup menghadapi hari persalinannya.
“Ryu-chan, jangan mondar mandir begitu, duduk saja yang tenang,” ujar Kiyoharu yang sedang menulis lirik lagu dan melihat Ryutaro berulang kali berjalan-jalan di sekitarnya. Ada saja yang ia lakukan, mulai dari mengambil makanan, membersihkan ruangan dan sebagainya.
“Aku jadi khawatir,” ujar Ryutaro.
“Tenanglah, kalau kau seperti itu, kau hanya akan pusing sendiri,” ujar Kiyoharu.
“Kau kan tidak merasakannya,” protes Ryutaro.
“Memang aku tidak merasakan apa yang kau rasakan sekarang, tapi aku juga khawatir,” Kiyoharu akhirnya benar-benar mengalihkan perhatiannya dari lirik lagunya dan menatap Ryutaro.
Ryutaro akhirnya duduk di samping Kiyoharu. “Hari ini tepat 9 bulan, sebentar lagi dia akan lahir, aku benar-benar gugup memikirkannya,”
“Kau masih mau mempertahankan dia dalam perutmu?” tanya Kiyoharu.
“Tapi itu tidak mungkin kan?” jawab Ryutaro.
Kiyoharu tertawa kecil, “Tentu saja tidak mungkin. Aku akan menemanimu saat kau melahirkan, tenang saja,”
*
Beberapa hari kemudian, Ryutaro merasakan kontraksi hebat di perutnya. Kiyoharu langsung cepat-cepat membawanya ke rumah sakit. Di rumah sakit, dokter segera menanganinya, sementara Kiyoharu memegang tangan Ryutaro yang sudah dibawa menuju ke ruangan persiapan operasi.
“Jangan takut,” ujar Kiyoharu mencoba menenangkan Ryutaro yang terlihat takut. “Semuanya akan baik-baik saja,”
Ryutaro hanya menatap Kiyoharu dengan pandangan khawatir. Kiyoharu lalu menghubungi teman-temannya untuk mengabarkan bahwa Ryutaro akan melahirkan.
Beberapa saat kemudian, Ryutaro segera dibawa masuk ke ruang operasi. Kiyoharu menunggu diluar dengan cemas. Ia belum pernah merasakan kecemasan seperti ini sebelumnya. Semuanya terasa begitu lama. Satu per satu, teman-teman Ryutaro dari Plastic Tree dan teman-teman Kiyoharu dari Sads mulai datang ke rumah sakit.
“Ryu-kun masih di dalam yah?” tanya Akira begitu bertemu Kiyoharu.
“Ya,” jawab Kiyoharu. Akira menepuk bahu Kiyoharu, “Tenanglah, dia pasti baik-baik saja,” hiburnya.
“Ya, Kiyoharu-san, semuanya pasti akan baik-baik saja,” ujar Go, drummer Sads.
“Aku harap begitu,” ujar Kiyoharu. “Aku tidak pernah membayangkan bisa secemas ini padanya,”
“Itu wajar saja. Ini kan anak pertama kalian,” ujar Kaz, gitaris Sads.
Kiyoharu duduk sambil menunggu dokter keluar dari ruang operasi. Baru kali ini ia merasa waktu lama sekali berlalu. Ia berdoa supaya Ryutaro dan anaknya selamat. Sampai akhirnya dokter keluar dan memberikan kabar bahagia untuknya. Anaknya telah lahir. Seorang bayi laki-laki yang sehat.
Kiyoharu terlihat lega dan senang. “Aku sudah bisa bertemu dengannya?”
“Kami akan membawa Arimura-san ke ruang pemulihan. Setelah itu anda baru bisa menjenguknya,” jawab dokternya.
“Selamat, Kiyoharu-san,” satu per satu orang yang ada disana memberinya ucapan selamat. Kiyoharu tersenyum bahagia.
*

Ryutaro menggendong bayinya. Ia masih agak sedikit bingung dengan cara-cara menggendong bayi yang benar dan suster-suster disana banyak mengajarinya soal itu. Karena bekas operasinya tidak memungkinkan ia beraktivitas seperti biasa, terpaksa jadwal kegiatan Plastic Tree ditunda lagi selama sebulan.
“Hari ini kau sudah boleh pulang kok,” Kiyoharu masuk ke kamar rumah sakit tempat Ryutaro dirawat. Sudah beberapa hari Ryutaro dirawat disini dan kali ini dokter sudah membolehkannya pulang. Ada banyak hadiah yang dikirimkan oleh teman-teman mereka dan Kiyoharu sudah membawa hadiah-hadiah tersebut ke apartemen mereka.
Ryutaro memegang jari tangan anaknya, “Lucu sekali ya dia. Masih kecil sekali, rasanya dia begitu rapuh,” ujar Ryutaro.
“Ya, tentu saja, dia kan masih bayi,” Kiyoharu menghampiri Ryutaro yang masih memegangi tangan anaknya. “Dia mirip denganmu,”
“Eh? Masa?” Ryutaro menatap anaknya baik-baik.
Kiyoharu tertawa. “Iya, dia mirip denganmu. Sekarang, lebih baik kau siap-siap untuk pulang, biar aku yang menggendongnya,”
“Oke,” ujar Ryutaro sambil menyerahkan anaknya ke Kiyoharu. Kiyoharu segera menggendongnya.
“Aku sudah mempersiapkan semuanya di apartemen kita, jadi kau bisa memulihkan kondisimu sambil menjaga anak kita disana,” jelas Kiyoharu.
“Arigatou,” ujar Ryutaro sambil tersenyum.
“Ah iya, kau sudah menemukan nama yang bagus untuknya?” tanya Kiyoharu.
Ryutaro menganggukkan kepalanya sambil membereskan barang-barangnya, “Um. Koichi,”
“Koichi ya?” Kiyoharu membelai lembut anaknya, “berarti sekarang namamu itu Mori Koichi ya?”
“Mori Arimura Koichi,” ujar Ryutaro sambil pelan-pelan turun dari tempat tidur.
Kiyoharu hanya tersenyum. “Iya, iya,”
*
Sejak kelahiran Koichi, Ryutaro makin sering tidak tidur di malam hari karena harus menyiapkan susu untuknya. Ryutaro memang sudah terbiasa begadang, seperti halnya Kiyoharu, tapi ini berbeda dengan ketika mereka harus menyiapkan lagu atau mengedit lagu. Hari ini, jam 3 pagi, Koichi kembali menangis. Kiyoharu yang memang masih belum tidur segera menenangkannya sedangkan Ryutaro segera membuatkan susu untuknya. Begitu kembali, ia melihat Kiyoharu masih menenangkan bayinya. Ryutaro sempat tersenyum, rasanya menyenangkan juga bisa bersama Kiyoharu membesarkan anaknya.
“Tuh, mamamu sudah datang,” ujar Kiyoharu pada Koichi.
“Eh? Mama?” Ryutaro masih belum terbiasa dengan panggilan itu.
“Iya, kau kan mamanya,” Kiyoharu menyerahkan Koichi sambil tersenyum ke arah Ryutaro.
“Aku masih belum terbiasa dipanggil mama,” Ryutaro menggendong Koichi dan memberikan susu untuk Koichi.
Selagi Ryutaro memberikan susu untuk Koichi, Kiyoharu melanjutkan pekerjaannya, menciptakan sebuah lagu dan memainkannya dengan gitarnya. Sampai akhirnya Koichi terlihat sudah kenyang dan mulai mengantuk. Kiyoharu tiba-tiba memainkan lagu dari Plastic Tree. Spontan Ryutaro segera menyanyikannya, meskipun dengan sedikit pelan supaya tidak mengganggu tidur Koichi. Koichi tampak tenang berada dalam gendongannya. Matanya terpejam. Ryutaro tersenyum melihatnya. Ia mencium kening Koichi dan membawanya ke tempat tidur bayi milik Koichi. Ryutaro pelan-pelan membaringkan Koichi disana. Di samping tubuh Koichi ada boneka nekozirushi yang sengaja ia taruh disana. Terkadang Koichi suka menarik-narik nekozirushi, karena itu Ryutaro sengaja menaruhnya disitu. Ia lalu menghampiri Kiyoharu, “Sekarang giliranmu istirahat, jangan memaksakan dirimu,”
“Baiklah,” Kiyoharu lalu menaruh gitarnya, merapikan pekerjaannya dan beristirahat bersama Ryutaro.
*
Begitu keadaan Ryutaro mulai pulih, ia kembali disibukkan dengan kegiatannya bersama Plastic Tree. Ia terkadang menitipkan Koichi pada seorang saudaranya ketika mereka harus pergi tur. Kiyoharu sendiri juga sibuk dengan bandnya. Terkadang Koichi juga diajak ke studio rekaman oleh Ryutaro. Untungnya Koichi tidak terlalu rewel bila diajak ke studio. Mungkin ia sudah terbiasa. Ryutaro saat ini sedang beristirahat dari latihannya. Ia memperhatikan Koichi yang masih terlelap di kereta bayinya. Kemarin, ia dan Kiyoharu nyaris ketahuan oleh wartawan ketika akan mengajak Koichi jalan-jalan.
Ryutaro menyalakan rokoknya. Sudah beberapa hari ini, ia tidak bisa bertemu dengan Kiyoharu karena Kiyoharu sedang tur di luar kota. Jadwal mereka mulai sering bentrok, hingga jarang ada waktu untuk bertemu. Ryutaro jadi merindukan saat-saat mereka bisa bersama. Koichi sendiri juga sudah mulai bisa menggumamkan kata-kata meskipun masih tidak jelas. Membuatnya makin terlihat lucu bagi Ryutaro.
*
Tidak terasa sebentar lagi usia Koichi sudah dua tahun sekarang. Ia mulai sering memegang-megang dan menarik-narik benda yang ada di sekitarnya. Ia juga sudah mulai sering bergerak kesana kemari. Terkadang ia suka menarik-narik kabel yang ada di studio bila Ryutaro sedikit saja lengah mengawasinya. Kiyoharu sendiri juga harus ikut menjaganya karena ia mulai belajar berdiri dan berjalan malah terkadang ia suka menuju ke tempat-tempat yang agak tersembunyi.
Ketika Ryutaro baru saja ingin membuatkan makanan, tiba-tiba saja perutnya terasa tidak enak. Rasa mual langsung menyergapnya. Beberapa hari ini ia memang terkadang kembali merasa mual, terutama di pagi hari. Kiyoharu yang sedang menggendong Koichi menghampiri Ryutaro yang baru saja keluar dari kamar mandi, “Kenapa? Kau sakit?” tanya Kiyoharu.
“Mungkin,” Ryutaro beristirahat sebentar di sofa. Sebenarnya ia mulai curiga dengan keadaannya karena itu ia sempat membeli sebuah tes kehamilan. Ryutaro sedikit berharap kalau hasilnya negatif. Pelan-pelan ia mengambil alat test kehamilan itu dari saku celananya dan melihatnya.
“Usooo~,” ujarnya begitu melihat alat itu menunjukkan dua garis yang berarti.... Positif.
"Kenapa, Ryuchan?" tanya Kiyoharu yang melihat Ryutaro tiba-tiba terlihat kurang bersemangat.
"Aku hamil lagi, Kiyoharu-san," ujarnya pelan.
"Heeeh, jadi benar kata-katamu yah? Lain kali kita membutuhkan pengaman," ujar Kiyoharu sambil tersenyum.
Ryutaro hanya menghela nafasnya. "Koichi akan punya adik lagi," ujarnya kemudian.

OWARI

Koichi - hasil editan Morph Thing-