Friday, January 21, 2011

Fanfic: Come Home part 2

Author: Ai Yagami Arimura Mori
Genre: yaoi,romance, a little male pregnancy
Pair: Kiyoharu X Ryutaro Arimura
Cast: Plastic Tree and Kiyoharu
BGM:  mikazuki kiseki - ayabie 

Part 2: Love and Mad

Ryutaro menunggu sampai Koichi selesai minum susunya baru kemudian ia mengangkat tubuh Koichi dan menggendongnya dengan posisi tegak supaya Koichi tidak tersedak. Meskipun Koichi sudah tidak bayi lagi, tapi Ryutaro selalu melakukan hal ini untuk berjaga-jaga. Saat membelai perlahan rambut Koichi, Ryutaro melihat seseorang di kejauhan yang sedang menatapnya. Untuk beberapa saat, Ryutaro tidak mengalihkan pandangannya dari orang itu. Ia merasa pernah mengenal orang yang juga sedang menatapnya itu. Orang itu mirip dengan seseorang yang dulu pernah menjadi bagian hidupnya. Ryutaro memakai tasnya dan cepat-cepat bangun dari tempat duduknya. Mungkin ini hanya karena ia sedang berada di Chiba dan memikirkan orang itu jadi ia berpikir yang tidak-tidak. Saat melangkah pergi, Ryutaro sempat menoleh ke belakang. Orang itu sepertinya tidak mengikutinya.
***
Urusan technical meeting kali ini sudah selesai. Kiyoharu menyempatkan diri keluar sebentar untuk melihat-lihat keadaan diluar. Saat itulah ia melihat Ryutaro baru saja keluar dari sebuah minimarket. Kiyoharu langsung menghampirinya. “Ryu-chan, kenapa kau malah jalan-jalan kesini? Bukankah kau harusnya menunggu di hotel saja?” tanya Kiyoharu.
“Ah, Kiyoharu-san, rupanya kau juga disini ya?” ujar Ryutaro.
“Kenapa kau tidak tinggal di hotel saja sih?”
“Aku cuma ingin jalan-jalan saja kok,” jawab Ryutaro. “Urusanmu sudah selesai?”
“Belum, aku sedang istirahat sebentar,” Kiyoharu menggendong Koichi yang mengulurkan tangannya ke arah Kiyoharu. “Bagaimana jalan-jalanmu, Ichi-chan?”
Koichi hanya menarik-narik rambut Kiyoharu. Ryutaro tertawa melihatnya. Koichi memang senang sekali memainkan rambut Kiyoharu.
“Dia sudah minum susu?” tanya Kiyoharu sambil mengajak Ryutaro ke dalam hall tempat ia akan manggung.
“Sudah kok, tenang saja,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu membawa Koichi ke tempat staffnya berkumpul. Wataru kembali menghampiri Koichi, “Hai, Koichi-kun, kau tidak takut lagi kan padaku?” tanya Wataru.
Koichi hanya menatap Wataru sambil diam. “Ayo, kau sapa Wataru-ojiisan,” canda Kiyoharu sambil memegang tangan mungil Koichi dan melambaikannya ke arah Wataru yang berada di hadapannya. Tapi Koichi justru kembali menatap Kiyoharu dan berkata pelan, “Papa..,”
“Ya ampun, Kiyoharu-san, anakmu lucu sekali,” ujar Wataru sambil tertawa kecil.
“Dia tidak rewel ya saat dibawa ke tempat seperti ini?” tanya salah satu staff Kiyoharu pada Ryutaro.
“Tidak, dia sudah biasa kami bawa kemana-mana. Waktu bayi dia juga ikut ke studio rekaman,” jawab Ryutaro.
“Wah, hebat juga,”
Kiyoharu lalu melihat ke arah Ryutaro sebentar, “Ryu-chan, kau tidak apa-apa? Mukamu agak pucat,”
“Aku cuma pusing dan mual,” jawab Ryutaro. “Aku mau ke kamar mandi dulu sebentar,” Ryutaro sempat menutup mulutnya lalu menuju ke toilet.
“Apa Arimura-san baik-baik saja?” tanya Wataru.
“Ya, dia hanya perlu istirahat sebentar kok,” jawab Kiyoharu.
“Memangnya dia sakit apa?” tanya Wataru lagi sambil memegang tangan Koichi yang mulai terbiasa dengannya.
Kiyoharu tersenyum, “Dia sedang menyiapkan adik baru untuk Koichi-chan,”
“Eh? Maksudmu, Arimura-san sedang….,”
“Ya, dia sedang mengandung anak kedua kami,” jawab Kiyoharu.
“Heeeeee? Cepat sekali,” Wataru agak kaget.
Kiyoharu hanya tertawa.
***
Malam hari
Chiba Hotel
Hari ini semua urusan untuk performnya sudah selesai. Setelah makan malam dan sedikit pembahasan mengenai acara mereka besok, Kiyoharu kembali ke kamarnya. Di kamarnya, Ryutaro sedang berbaring sambil menemani Koichi yang sedang meminum susu sebelum tidur.
“Kau sudah kembali. Sudah selesai acaranya?” tanya Ryutaro begitu Kiyoharu datang.
“Untuk hari ini sudah kok, tinggal persiapan untuk besok saja,” jawab Kiyoharu. Ia lalu menuju ke kamar mandi.
Ryutaro masih menemani Koichi. Entah kenapa ia kembali teringat dengan peristiwa tadi saat ia dan Koichi berada di taman. Ia masih tidak yakin dengan orang yang ia lihat saat itu. Orang itu benar-benar mirip dengan seseorang yang ia kenal dulu. Jauh sebelum ia mengenal Kiyoharu. Ryutaro terdiam. Ryutaro menggelengkan kepalanya perlahan. Tidak seharusnya ia memikirkan hal ini lagi. Sudah ada Koichi dan Kiyoharu, juga calon anak kedua mereka. Ia tidak mungkin meninggalkan semua ini begitu saja setelah apa yang ia alami dulu saat sedang hamil Koichi. Tanpa ia sadari, Koichi mulai tertidur di sampingnya dengan lelap. Mungkin karena lelah berjalan-jalan hari ini. Ryutaro baru menyadari anaknya itu sudah tidur ketika ia melihat ke arah Koichi sesaat. Ia lalu meletakkan botol susu Koichi di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya dan menarik selimut kecil milik Koichi.
Ryutaro mendesah pelan. Sebenarnya inilah hal yang paling tidak ingin ia ingat setiap kali datang ke Chiba, tapi entah kenapa kenangan itu selalu datang. Ryutaro mencoba berbaring sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya dan memejamkan matanya, berusaha menghilangkan dan melupakan kejadian yang tadi ia alami.
Sebuah pelukan dari Kiyoharu dan ciuman di lehernya mengagetkan Ryutaro. Kiyoharu dapat merasakan tubuh Ryutaro tersentak, namun ia hanya tersenyum. “Kau masih pusing?” tanya Kiyoharu.
“Sedikit,” jawab Ryutaro. Ia berbalik dan menatap Kiyoharu yang berada tepat di belakang tubuhnya dan berada sangat dekat dengannya.
“Kenapa?” tanya Kiyoharu heran.
Ryutaro tidak menjawabnya.
“Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Kiyoharu lagi.
“Tidak. Bukan itu,” jawab Ryutaro.
“Kau tidak enak badan?” Kiyoharu memegang kening Ryutaro dan memeriksa kondisi tubuhnya, tapi suhu tubuh Ryutaro masih normal. Ia lalu memegang pipi Ryutaro, “Ada apa? Katakan saja Ryu-chan,”
“Kiyoharu-san,” ujar Ryutaro pelan. “Sebenarnya tadi aku bertemu dengan seseorang yang mirip dengan orang yang pernah kukenal disini,”
“Lalu?”
“Aku hanya takut kalau ketahuan Ichi-chan adalah anakku dan dia mengatakannya pada media, semua bisa jadi lebih rumit,” jawab Ryutaro.
“Kalau begitu kau harus lebih berhati-hati lagi, Ryu-chan. Jangan sampai ada yang melakukan hal seperti itu. Kalau Ichi-chan ketahuan, dia akan kehilangan privasinya, kasihan dia,”
“Aku tahu,” jawab Ryutaro pelan.
Kiyoharu meraih kepala Ryutaro ke dalam pelukan hangatnya sementara Ryutaro juga memeluk tubuh Kiyoharu.
***
Pagi hari
Chiba Hotel
Ryutaro sudah membawa Koichi berjalan-jalan pagi ini, sementara Kiyoharu bersiap-siap menuju ke hall tempat acaranya diadakan setelah melakukan sarapan dengan Ryutaro dan Koichi tadi. Ryutaro membiarkan Koichi belajar berjalan di teras hotel yang luas. Semalam ia merasa sedikit lega dan sudah memantapkan hatinya. Ia mencintai Kiyoharu dan juga keluarga barunya ini. Sesekali Ryutaro berdiri dan membantu Koichi berjalan.
Sambil memakai sebuah tas ransel, Kiyoharu menghampiri Ryutaro dan Koichi, “Ryu-chan, kau mau ikut kesana sekarang atau nanti kau akan menyusul kesana?” tanya Kiyoharu.
“Mungkin aku akan menyusul kesana, Kiyoharu-san,” jawab Ryutaro. Koichi melihat ke arah Kiyoharu, “Papa…,” panggilnya.
Kiyoharu segera menggendong Koichi, “Ichi-chan, kau bersama mama Ryu dulu ya?” ujar Kiyoharu sambil mencium kening Koichi lalu menyerahkannya pada Ryutaro. Namun Koichi menangis saat Kiyoharu melepas pegangan tangannya. Ryutaro berusaha menenangkannya.
“Jangan menangis, Ichi-chan, nanti kita bertemu lagi kok,” ujar Kiyoharu.
Tapi tangisan Koichi mulai kencang.
“Ichi-chan, kenapa kau jadi manja begini? Biarkan papamu kerja dulu,” tambah Ryutaro sambil tetap menenangkan Koichi.
Koichi masih tetap menangis. Kiyoharu terpaksa kembali menggendong Koichi. “Sssst, Ichi-chan, sudah ya, jangan menangis lagi,” Kiyoharu menghapus airmata Koichi sambil tetap menggendongnya dan menenangkannya.
“Kenapa sekarang kau jadi manja begitu, Ichi-chan?” tanya Ryutaro.
Kiyoharu tertawa kecil. “Sudahlah, tidak apa-apa kok. Mungkin Ichi-chan mau ikut kesana,” Kiyoharu kembali menatap Koichi, “Kau mau ikut kesana ya,Ichi-chan?”
Koichi perlahan berhenti menangis dan akhirnya memeluk Kiyoharu.
“Baiklah, baiklah, sekarang aku akan menemanimu kesana bersama Koichi,” ujar Ryutaro kemudian. Tapi bunyi handphonenya mengagetkannya. Ryutaro segera menjawabnya. Sementara Kiyoharu mulai berhasil menenangkan Koichi yang sekarang benar-benar sudah berhenti menangis. Begitu Ryutaro menutup teleponnya, Kiyoharu segera bertanya, “Kau ada acara?”
“Bukan. Itu tadi Tadashi-kun. Mereka sudah sampai disini juga,” jawab Ryutaro.
“Mereka juga akan ke konserku?” tanya Kiyoharu.
“Ya, sepertinya begitu,” jawab Ryutaro sambil menyimpan kembali handphonenya.
“Kalau begitu, kau pergi bersama mereka saja. Ichi-chan biar bersamaku saja,”
“Tapi, apa kau tidak akan kerepotan?” tanya Ryutaro dengan sedikit khawatir.
“Tidak apa-apa kok,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
“Baiklah, nanti aku akan menyusul kesana,” ujar Ryutaro kemudian.
***
Menjelang Siang
Chiba Hall
Kiyoharu masih menggendong Koichi dan melakukan persiapan untuk penampilannya nanti.
“Wah, wah, si jagoan kecil Kiyoharu-san ikut juga rupanya,” kata Wataru sambil menghampiri Kiyoharu dan Koichi.
“Dia sedang tidak mau ditinggal. Tadi dia menangis di hotel saat aku mau kesini,” jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
Wataru tertawa, “Ternyata dia bisa manja pada papanya juga ya? Arimura-san tidak ikut?”
“Tidak, tapi nanti dia akan menyusul kesini,” jawab Kiyoharu.
“Kiyoharu-san, sudah waktunya check sound,” panggil salah satu staffnya.
“Oke,” Kiyoharu segera menuju ke stage. Setelah melakukan berbagai persiapan, Kiyoharu segera menyanyi sambil tetap menggendong Koichi. Terkadang Koichi ikut menyentuh mikrofonnya, untungnya Kiyoharu tidak membiarkannya memainkan mikrofon itu lama-lama.
“Sepertinya Koichi-kun akan menjadi vokalis juga,” ujar K-A-Z (gitaris sads) sambil tersenyum di sela-sela persiapan mereka, ketika Koichi kembali memegang mikrofon Kiyoharu dan sempat mendekatkan mikrofon itu ke mulutnya. Kiyoharu sempat tertawa menanggapinya. "Mungkin karena papa-mamanya sama-sama vokalis yah," ujar Kiyoharu kemudian. 
***
Chiba Station
Ryutaro baru saja sampai di Chiba Station dan menunggu Tadashi, Akira dan Kenken yang sebentar lagi sampai. Sebenarnya bisa saja ia menyuruh mereka semua langsung menuju ke hall tempat Kiyoharu konser, namun akan lebih menyenangkan bila mereka bisa bersama-sama kesana. Sebuah kereta dari Tokyo baru saja tiba. Tak perlu menunggu lama bagi Ryutaro untuk bertemu dengan teman-teman bandnya itu.
Namun saat keluar dari Chiba Station, ada sebuah kejutan yang menunggunya. Seseorang tiba-tiba menghampirinya, “Ryu-chan, akhirnya kita bertemu lagi,” sapanya.
Ryutaro menoleh dan kali ini ia benar-benar kaget melihatnya. “Kouji-san,” sapa Ryutaro yang masih belum bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
“Ternyata benar ya. Kau sudah sedikit berubah sekarang, Ryu-chan. Lama ya kita tidak berjumpa,” ujar laki-laki bernama Kouji itu.
“Ah, iya, sudah lama sekali,” jawab Ryutaro sambil menundukkan kepalanya.
Kenken menyenggol lengan Tadashi, “Leader-san, siapa dia?”
“Kouji-kun, gitaris teman lama Ryu-kun,” jawab Tadashi.
“Sekaligus mantan Ryu-chan,” tambah Akira.
“Heeeeeeeeee?” Kenken terlihat kaget.
“Ya, Ryu-kun pernah berhubungan dengannya dulu,” ujar Tadashi.
Kouji masih mengajak berbicara Ryutaro namun Ryutaro lebih banyak menjawabnya sambil menundukkan kepalanya.
“Kalian mau kemana setelah ini?” tanya Kouji.
“Kami akan menuju ke hall melihat pertunjukkan teman kami,” jawab Tadashi sambil menghampiri Ryutaro dan Kouji.
“Wah, kebetulan sekali, aku juga mau kesana. Jangan-jangan kalian akan melihat pertunjukkan Kiyoharu-san ya?” tebak Kouji.
“Darimana kau tahu?” Akhirnya Ryutaro menatap Kouji.
Kouji tertawa, “Tentu saja aku tahu, berita konser itu kan sudah terkenal disini. Jadi kalian benar-benar kenal dengan Kiyoharu-san? Dia hebat yah?”
“Ya,” jawab Ryutaro singkat. Ia lalu mengambil handphonenya dan mengirimkan email pada Kiyoharu. ‘Mungkin aku akan sedikit terlambat kesana. Jaga Ichi-chan baik-baik,’ tulis Ryutaro lalu menekan tombol sent pada handphonenya.
***
Chiba Hall
Persiapan sebelum tampil
Kiyoharu sudah memakai kostum yang akan ia kenakan nanti. Koichi sedang berada di sebuah tempat duduk khusus untuk balita yang sudah dibawa oleh Kiyoharu sebelumnya, sementara ia memakai make-upnya.
“Gomen, aku terlambat,” Ryutaro akhirnya sampai di ruang backstage.
“Tidak apa-apa. Tadi ada masalah ya?” tanya Kiyoharu sambil menatap Ryutaro dari kaca yang berada di hadapannya.
“Ya begitulah,” jawab Ryutaro. Ia langsung menghampiri Koichi. “Ichi-chan sudah minum susunya?”
“Belum,” jawab Kiyoharu, “Dari tadi dia sibuk memainkan mic, sepertinya dia akan meneruskan langkah kita menjadi seorang vokalis,”
Ryutaro tertawa mendengarnya. Ia lalu mengambilkan botol susu Koichi dari tas perlengkapan bayi yang ada di dekatnya. Koichi segera meminumnya.
“Tadashi-kun dan yang lain dimana?” tanya Kiyoharu.
“Sedang berada diluar,” jawab Ryutaro sambil menemani Koichi.
“Ini pesananmu, Kiyoharu-san,” salah satu staff datang sambil membawa semangkuk udon.
“Sankyuu,” Kiyoharu menyelesaikan makeupnya dan menyantap makanannya terlebih dulu.
“Kau baru makan sekarang?” tanya Ryutaro dengan heran.
“Tadi aku tidak sempat,” jawab Kiyoharu. Ia lalu menatap Ryutaro sebentar, “Kau mau coba?”
“Boleh,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu segera mendekati Ryutaro sambil membawa mangkuk udonnya lalu menyuapi Ryutaro.
“Kiyoharu-san ternyata romantis juga,” komentar Wataru.
“Lho, kau baru tahu ya?” Kiyoharu membalas komentar Wataru sambil tertawa. Sementara Ryutaro hanya tersenyum sambil memakan udonnya.
***
Chiba Hall
After show
Ryutaro dan Koichi langsung menyambut Kiyoharu di backstage, “Otsukaresama deshita, Kiyoharu-san,”
“Arigato, Ryu-chan,” balas Kiyoharu sambil tersenyum. “Setelah ini kami akan ke café untuk merayakan kesuksesan show kali ini, kau ikut kan?”
“Tentu saja,” jawab Ryutaro.
Setelah membereskan perlengkapannya, Kiyoharu dan Ryutaro keluar dari ruang backstage, melalui sebuah jalan rahasia, Ryutaro lebih dulu masuk ke mobil bersama Koichi, sementara Kiyoharu melewati pintu depan, menyapa para fans yang sedang menunggunya.
Sebenarnya Ryutaro agak sedikit tidak enak pada Kiyoharu karena Kouji tadi ingin ikut bersama mereka nanti. Tadinya ia ingin langsung beristirahat di hotel, tapi ia berharap mudah-mudahan Kouji membatalkan keinginannya.
***
One of Chiba Café
Kiyoharu dan para staffnya sudah menyewa salah satu café untuk merayakan kesuksesan mereka. Ryutaro tadinya terlihat cukup lega ketika ia melihat Tadashi, Akira dan Kenken sudah berada di mejanya dan tidak bersama Kouji. Namun kelegaannya tidak berlangsung lama karena ternyata Kouji baru saja kembali dari toilet dan melihat Kiyoharu datang bersama Ryutaro yang sedang menggendong Koichi.
“Wah, gawat,” ujar Kenken.
“Ryu-chan, jadi yang kemarin aku lihat itu benar-benar kau ya? Aku pikir aku salah lihat melihat kau sedang menggendong bayi di taman,” ujar Kouji.
Ryutaro tersentak kaget. Jadi benar, kemarin ia melihat Kouji.
“Kau sudah punya anak, Ryu-chan?” tanya Kouji.
“Eh… ummm…,” Ryutaro tampak gugup.
“Mirip juga denganmu. Anakmu dengan siapa?” Kouji kembali bertanya.
Baru saja Kiyoharu akan menjawabnya tapi Ryutaro segera menjawab, “Rahasia. Kau tidak perlu tahu,”
“Wah, ternyata sekarang kau sudah punya banyak rahasia ya? Tidak seperti dulu,” komentar Kouji.
“Kau teman lama Ryu-chan?” tanya Kiyoharu tiba-tiba.
“Yah bisa dibilang begitu. Kami cukup dekat dulu, bisa dibilang juga kami lebih dari teman, bukan begitu, Ryu-chan?” ujar Kouji.
Kiyoharu mengambil segelas bir yang ia pesan. “Jadi, kalian dulu saling menyukai?”
“Yah, bisa dibilang begitu,” jawab Kouji dengan jujur.
Kiyoharu menaruh gelas bir dengan agak kencang, membuat Ryutaro agak kaget. “Begitu ya?”
"Tapi kita kan sudah lama tidak bertemu lagi, Kouji-san,” Ryutaro berusaha menenangkan situasi tidak menyenangkan antara Kiyoharu dan Kouji.
“Ya, kau tidak tahu saja kalau aku mencari cara untuk menghubungimu dan itu susah sekali. Aku senang kita bisa bertemu lagi, Ryu-chan,” Kouji memegang tangan Ryutaro. Membuat Kiyoharu mulai diliputi perasaan tidak suka pada Kouji. Terlebih setelah itu, mereka berbincang cukup akrab. Sampai akhirnya, Kiyoharu menggendong Koichi dan kemudian meninggalkan Ryutaro tanpa berkata apapun. Ia hanya berpamitan pada member Plastic Tree yang lain dan juga staffnya.
***
Chiba Hotel
Kali ini giliran Kiyoharu yang menemani Koichi tidur. Entah kenapa ia merasa begitu kesal melihat Kouji dan Ryutaro begitu akrab. Ia harus mengakui kali ini kalau ia cemburu pada mereka. Tapi itu wajar saja mengingat Ryutaro sekarang sudah menjadi bagian dari hidupnya, bagian dari keluarganya. Ia tidak ingin ada yang mengganggu keluarganya yang baru ini. Suara pintu kamar dibuka dan seseorang masuk ke dalam tidak menarik perhatian Kiyoharu yang sedang mengelus rambut Koichi yang tertidur setelah tadi puas meminum susunya meskipun tidak habis. Ia tetap berada di samping Koichi.
“Kiyoharu-san, kenapa kau pergi begitu saja?” tanya Ryutaro begitu melihat Kiyoharu.
“Aku lelah,” jawab Kiyoharu singkat.
Ryutaro terlihat heran melihat tanggapan dingin Kiyoharu. Tapi ia memutuskan untuk menuju ke kamar mandi dulu untuk mandi dan berganti baju.
Sementara Kiyoharu meninggalkan Koichi yang sudah tertidur dan menuju ke ruang santai di kamar itu, menyalakan ipadnya sambil merokok.
Tak lama kemudian Ryutaro keluar dari kamar mandi dan menghampiri Kiyoharu, “Setelah ini acaramu sudah selesai kan? Kita bisa jalan-jalan kan?”
“Hmmm,” ujar Kiyoharu singkat.
“Lalu yang lain? Apa mereka akan pulang duluan?” tanya Ryutaro lagi.
“Sebagian. Wataru-san pulang bersama kita, tapi dia ada acara sendiri disini,” jawab Kiyoharu tanpa mengalihkan pandangannya dari ipadnya.
“Kiyoharu-san,” panggil Ryutaro.
“Hmm,”
“Kau marah?” tanya Ryutaro sambil menatap Kiyoharu.
“Menurutmu?” jawab Kiyoharu singkat.
“Tidak biasanya kau sedingin ini. Kenapa sih? Ada apa?” Ryutaro benar-benar heran.
Kiyoharu menghembuskan asap rokoknya.  Tapi ia tetap tidak menatap Ryutaro meskipun Ryutaro duduk di sampingnya.
“Nee, Kiyoharu-san, kenapa kau marah padaku?” tanya Ryutaro.
“Aku cuma kesal,” jawab Kiyoharu singkat.
“Kesal kenapa?”
Kiyoharu menghisap rokoknya lagi dan menghembuskan asapnya, “Kupikir cuma akan ada Pura-tachi saja, tapi ternyata kau mengajak mantanmu,”
“Tapi aku sama sekali tidak mengajaknya kok. Kami hanya tidak sengaja bertemu di stasiun,” jawab Ryutaro.
Kiyoharu akhirnya menaruh ipadnya. “Aku cuma tidak suka bila kau dekat dengan mantanmu. Sama seperti kau cemburu dengan wanita yang dekat denganku dulu,”
“Aku tahu. Tapi aku benar-benar tidak sengaja mendekatinya supaya kau cemburu,” jelas Ryutaro.
“Ya, aku percaya,” Kiyoharu akhirnya menatap Ryutaro, “Tapi tetap saja rasa cemburu itu ada, Ryu-chan,”
“Gomen nee,” ujar Ryutaro sambil menundukkan kepalanya. Ia jadi merasa bersalah pada Kiyoharu.
Kiyoharu masih menatap Ryutaro lalu menaruh rokoknya di atas asbak. Sekarang justru ia juga diliputi perasaan bersalah karena telah meninggalkan Ryutaro. Kiyoharu akhirnya merangkul Ryutaro, “Maafkan aku juga karena terlalu terbawa emosi tadi,” Kiyoharu mengelus perut Ryutaro, “Padahal kau sedang hamil,” Kiyoharu jadi merasa telah melakukan tindakan bodoh tadi. Ryutaro sedang hamil anak keduanya dan ia malah meninggalkannya begitu saja.
"Kau tidak marah padaku lagi kan?" tanya Ryutaro.
"Tidak kok," jawab Kiyoharu sambil tersenyum.
“Syukurlah,” Ryutaro terlihat lega.
"Sekarang kau istirahat saja sana," ujar Kiyoharu.
"Tapi aku lapar, aku mau pesan makanan dulu," kata Ryutaro. Ia beranjak bangun dan menuju ke telepon yang tersedia untuk memanggil room service.
Kiyoharu hanya menatapnya tanpa beranjak dari sofa. Ia tahu Ryutaro tidak akan mengkhianatinya, tapi mungkin kehadiran mantannya itu cukup mengganggu pikirannya. Kiyoharu mematikan rokoknya. Ia sudah memutuskan, ia tidak akan membiarkan mantan pacar Ryutaro itu mengganggu hubungan mereka.
***

(to be continued - bersambung ke part 3) ^^

No comments:

Post a Comment